31 Agustus 2010

7 Syarat puasa mencapai Taqwa : lanjutan Marhaban ya Ramadhan

Keistimewaan ketiga bagi org yg bertaqwa disebutkan pd ujung ayat ke4 (surah yg sama):"Wa Man Yattaqillaha Yaj'al Lahu Min Amrihi Yusra";artinya:"Dan siapa-saja yg bertaqwa kpd Allah,niscaya Allah akan menjadikan kemudahan baginya dlm urusannya". Dan keistimewaan yg keempat dan kelima ada pada ujung ayat yg ke5;yaitu:.
"Wa Man Yattaqillaha Yukaffir 'Anhu Sayyi-atihi Wa Yu'zhim Lahu Ajra";artinya:"Dan siapa-saja yg bertaqwa kpd Allah, niscaya Dia akan menghapus ke-salahan2nya dan akan melipat gandakan ganjaran baginya".

Inilah 5 (lima) keistimewaan yg dijanjikan Allah bagi org yg bertaqwa:
(1) Diberikan jalan keluar dari semua kesulitan.
(2) Diberi rezeki dari arah yg tiada di-sangka2
(3) Diberi kemudahan dlm setiap urusan
(4) Dihapus semua kesalahan
(5) Diberi balasan yg berlipat-ganda.
Inilah janji Allah kpd org yg bertaqwa; dgn pengertian Taqwa yg sebenarnya. Dan inilah target dari ibadah Shaum yg sesungguhnya: La'allakum Tattaqun (agar kalian --menjadi org yg-- bertaqwa).

Ada 7 (tujuh) syarat yg harus dipenuhi agar ibadah Shaum (Puasa) mencapai hasil yg diinginkan, yaitu: Taqwa.
Syarat pertama: Melaksanakan Shaum karena iman kpd Allah dan benar2 ingin mencari hasilnya;sebagaimana sabda Nabi saw: "Man Shama Ramadhana Imanan Wah-tisaban Ghufira Lahu Ma Taqaddama Min Dzanbihi";artinya:
"Siapa-saja yg berpuasa dibln Ramadhan karena iman kpd Allah dan karena mencari hasilnya, maka diampunilah dosanya yg terdahulu". Yg dimaksud karena iman ialah: karena keyakinan akan wajibnya Shaum. Jadi, ia melaksanakan Shaum karena keyakinan bhw itu adalah kewajiban yg harus ia lakukan. Dan yg dimaksud mencari hasilnya ialah: hasil atau target Shaum yaitu Taqwa.

Syarat kedua: Meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, Nabi saw bersabda: "Man Lam Yada' Qaulaz-Zur Wal-'Amala bihi, Fala Hajata Lillahi Fi Ma An-Yada'a Tha'amahu Wa Syarabahu";artinya:"Siapa-saja yg tdk meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka Allah tdk mau --menerima puasanya yg hanya-- meninggalkan makan dan minumnya (saja)". Hadits ini juga menunjukkan bahwa puasa (Shaum) bukan sekedar meninggalkan (menahan) makan dan minum;sebagaimana sabda Nabi saw:"Laisash-Shiyamu Minal-Akli Wasy-Syarab";artinya: "Puasa (Shaum) itu bukanlah sekedar menahan makan dan minum". Pada syarat yg kedua ini jelas sekali dinyatakan bahwa Shaum itu ialah menahan diri dari ucapan dan perbuatan dusta.

Syarat ketiga: "Tdk mengghibah". Ghibah artinya: membicarakan keburukan org lain. Nabi saw bersabda:"As-Shiyamu Junnatun Ma Lam Yahruqha Bil-Ghibah",artinya: "Puasa itu adalah perisai selama ia tdk merusaknya dgn ghibah". Hadits ini menyatakan bhw puasa adalah perisai yg melindungi dari berbagai serangan. Namun, bila seorg yg berpuasa melakukan ghibah, maka rusaklah perisainya alias rusaklah puasanya.

Ibnul-Atsir mengatakan bhw yg dimaksud dgn:"Puasa adalah perisai";ialah "perisai" yg melindungi seseorg dari serangan syahwat; yaitu keinginan yg ber-lebih2an atau obsesi terhadap dunia dan ini sangat berbahaya. Namun, perisai atau puasa itu bisa rusak jika org yg bersangkutan melakukan ghibah, ngerumpi dsb. Hadits ini pun sangat relevan dgn makna puasa yg hakiki, yaitu: "Mengontrol ucapan dan perbuatan".

Syarat keempat: "Menahan mulut dari kata2 kotor (cabul), berbuat jahil dan bertengkar. Nabi saw bersabda: "Ash-Shiyamu Junnatun Fala Yarfuts, Wa La Yajhal, Wa Inim-ru-un Qatalahu Aw Syatamahu Fal-yaqul Inni Sha-imun.";artinya: "Puasa itu perisai, maka jangan mengucapkan perkataan kotor dan jangan berbuat jahil.Jika ada org lain yg menyerangnya atau memakinya, jawablah: "Sesungguhnya aku sedang berpuasa".

Yg dimaksud "berbuat jahil" dlm hadits ini menurut para 'ulama ialah: Ber-teriak2 dan bersikap kasar; yaitu: perbuatan org yg tdk berpendidikan. Bahkan, jika ada org lain yg menyerang atau me-maki2nya dgn kata2 yg memancing emosi, hendaklah ia jangan terpancing, katakan saja pada orang itu kalau ia sedang berpuasa.

(bersambung...)

Marhaban ya Ramadhan

Marhaban ya Ramadhan. Arti Ramadhan dari segi bahasa adalah "Syiddatul-Harr" (Yang Sangat Panas/Membakar); para 'ulama mengatakan: "Li Annahu Tuhraqu Fihidz-Dzubnubu";artinya: "Karena di dalamnya (Ramadhan) semua dosa-dosa dibakar (dimusnahkan)".

Disebutkan dalam hadits bahwa setiap akhir bulan Sya'ban Nabi saw selalu berkhutbah mengingatkan para sahabatnya, sabda Beliau: "Ya Ayyuhan-Nas,Qad Azhallakum Syahrun 'Azhimun Mubarakun": artinya: "Wahai manusia, sungguh kalian segera akan dinaungi oleh bulan yang teramat mulia dan penuh dengan berkah (yaitu Ramadhan)".

Ada 4 (empat) hal yang menjadi pokok keberkahan Ramadhan; sabda Nabi "Idza Dakhala Ramadhanu Futihat Abwabus-Sama-i Wa Ghulliqat Abwabu Jahannama Wa Sulsilatisy-Syathin Wa Futtihat Abwabul-Jannati". Artinya: "Ketika Ramadhan telah masuk, maka pintu-pintu langit pun dibuka; dan pintu-pintu Neraka Jahannam ditutup; dan setan-setan diikat (dirantai) dan pintu-pintu Sorga dibuka" (H.R. Al-Bukhari).

Ramadhan adalah satu-satunya bulan yang disebut dalam Al-Quran dan Allah SWT telah menetapkan keawajiban shaum bagi orang-orang mu'min dalam bulan yang penuh berkah ini; firman-Nya: Ya Ayyuhal-Ladzina Amanu Kutiba 'Alaikumush-Shiyamu Kama Kutiba 'Alal-Ladzina Min Qablikum La'allakum Tattaqun"; :"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian utk shaum sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian --menjadi orang2 yang.-- bertaqwa". (Al-Baqarah (2):183).

Ada 3 hal yang harus diperhatian dari ayat ini; (1) Nida atau panggilannya; "Wahai orang2 yang beriman". Al-Ustadz Sa'ad Shadiq Muhammad mengatakan: "Innaman-Nida-u Bi Washfil-Iman Innama Yukhashshu Lil-Mu'minina Wahdahum"; artinya: Sesungguhnya seruan (pangilan) dengan menyebut iman –seperti ini-- hanyalah dikhususkan bagi orang2 mu'min saja".

Lalu beliau berkata lagi: "Li annal-Imana Asasul-Khairi Wa Manba'ul-Fadha-ili"; artinya; "Karena iman --kepada Allah-- merupakan asas (dasar) bagi seluruh kebaikan dan juga sumber dari seluruh keistimewaan". Jadi, iman kpd Allah merupakan pemicu bagi semua potensi kebaikan dan keistimewaan. Inilah makna yg dikandung dari seruan: Ya Ayyuhal-Ladzina Amanu (Wahai org2 yg beriman).

Dan hal ke-2 dari ayat ini adalah isi panggilan (Nida'): Kutiba 'Alaikumush-Shiyam (Diwajibkan atas kalian utk shiyam/berpuasa). Makna Shiyam (Shaum) dari sisi etymologi adalah "Al-Imsaku 'Anil Fi'li dan Tarkul-Kalami"; artinya: Menahan perbuatan dan meninggalkan pembicaraan; atau dalam istilah kita: "Mengontrol perbuatan dan omongan". Makna shaum secara etymologi sangat sesuai dgn sabda Nabi saw: "Laisash-Shiyamu Minal-Akli Wasy-Syarabi,Innamash-Shiyamu Minal-Laghwi War-Rafatsi"; artinya: Shiyam (Puasa) itu bukanlah --sekedar menahan-- makan dan minum; tetapi Shiyam adalah menahan --diri-- dari perbuatan (kelakuan) yg sia2 dan ucapan yg kotor (H.R. Al-Hakim & Al-Baihaqi). Inilah makna hakiki dari Shiyam yg sangat sesuai dgn maknanya secara etymologi.

Dari makna yg hakiki inilah para ulama membagi Shiyam --pada tatanan aplikasinya menjadi 3 (tiga) tingkatan.

Tingkat pertama: Shaumul-'Awaam;artinya: Shaumnya org. awam; yg. pelaksanaan Shaumnya hanya dilandasi oleh pengertian sekedar menahan makan dan minum. Artinya, mrk. memahami makna Shaum adalah (cukup) sekedar menahan lapar dan haus. Sebuah pemahaman yg amat dangkal sekali.

Al-Ghazali mengatakan inilah Shaum yg tdk memberikan hasil, tdk ada peningkatan iman dan taqwa bagi pelakunya, sebagaimana sabda Nabi saw.:"Kam Min Sha-im, Wa Laisa Lahu Illal-'Athasy Wal-Ju'":artinya:"Banyak org yg melakukan Shaum, tapi tdk ada hasil apa2 kecuali --hanya-- haus dan lapar saja". Inilah Shaumul-'Awwam.

Puasa tingkat kedua: Shaumul-Khawash; artinya: Puasanya org2 yg istimewa, yaitu puasa yg dilaksanakan dgn pengertian menahan diri dari makan dan minum, dan dibarengi dgn melakukan kontrol yg ketat terhadap omongan dan kelakuan agar tdk terjerumus kpd omongan dan kelakuan yg diharamkan oleh agama (insya Allah akan kita bahas). Puasa pada tingkatan inilah yang dapat mencapai target, yaitu: TAQWA.

Puasa tingkat ketiga: Shaumul-Khawashil-Khawash;artinya: Puasanya org yg sangat2 istimewa, yaitu puasa yg tdk terbatas pada menahan lapar dan haus serta melakukan kontrol ketat terhadap omongan dan kelakuan, tapi masih ditambah lagi dgn menahan hati utk tetap berdzikir kpd Allah, tdk memberi ruang bagi masalah2 duniawi. Inilah puncak tertinggi dalam pelaksanaan Shaum.

Sekarang kita memasuki sisi ke 3 dari ayat 183 surah Al-Baqarah yg berbunyi: "La'allakum Tattaqun";artinya:"Agar kalian bertaqwa". Inilah tujuan luarbiasa dari ibadah Shaum. Makna Taqwa secara umum ialah: "Makhafatullahi Wal-'Amali Bitha'atih"; artinya:"Rasa takut kpd Allah dan melaksanakan keta'atan kpd-Nya". Bangkitnya rasa takut kpd Allah berarti hilangnya rasa takut kpd selain Allah.

Keta'atan kpd Allah berarti sikap loyal sepenuhnya hanya kpd Allah, tdk kpd selain Allah. Inilah makna Taqwa secara umum, dan ini yg menjadi tujuan Shaum. Namun, masih adalagi makna Taqwa yg lebih mendalam dari ini, disebutkan Ibnu Katsir dalam Tafsirnya;dinuqil dari dialog antara Umar bin Khaththab dgn Ubay bin Ka'ab. Disebutkan di situ bahwa Umar bertanya kpd Ubay: Apakah Taqwa itu?

Maka Ubay balik bertanya kpd Umar: "Ama Salaqta Thariqan Dza Syauqin?";artinya: "Apakah Anda pernah melalui sebuah jalan yg penuh duri?". Jawab Umar: "Pernah". Lalu Ubay bertanya lagi: "Fama 'Amilta?";artinya: "Apa yg Anda lakukan saat itu?". Jawab Umar: "Syammartu Waj-Tahadtu";artinya:"Aku akan ber-siap2 (membuat rencana) dan aku akan berijtihad (ber-sungguh2)".

Maka dgn tegas Ubay berkata: "Fadzakat-Taqwa"; artinya:"Nah, itulah makna Taqwa!!". (Ibnu Katsir juz I hal.40). Subhanallah; inilah makna Taqwa menurut para shabat Rasulullah saw.;yaitu: Syammartu (selalu bersiap); selalu bertindak dgn rencana yg matang dan Ijtihad; yaitu: selalu menggunakan pikiran dgn serius.

Jadi, kalau kita gabungkan semua pengertian Taqwa tsb, maka makna Taqwa ialah: Rasa takut hanya kpd Allah, bersikap taat, tunduk dan loyal hanya kpd Allah; selalu membuat perencanaan sebelum bertindak dan selalu menggunakan pikiran (cerdas) dalam bertindak. Alangkah jauh pengertian Taqwa yg kita pahami selama ini, dgn pengertian Taqwa menurut para shahabat Rasulullah saw. Inilah sasaran ibadah Shaum!

Jadi, wajarlah jika Allah SWT menjanjikan sejumlah keistimewaan bagi org yg bertaqwa dgn makna taqwa yg sesungguhnya. Keistimewaan pertama ada pada ujung ayat ke2 surah Ath-Thalaq (65): "Wa Man Yattaqillaha Yaj'al Lahu Makhrajan";artinya: "Dan siapa-saja yg bertaqwa kpd Allah, maka Dia jadikan jalan keluar baginya".

Al-Maraghi mengatakan: Ayat ini menegaskan tentang keistimewaan Taqwa di dunia dan di akhirat, bahwa Taqwa akan memberikan jalan keluar dari kesempitan dunia dan kesempitan akhirat (Tafsir Al-Maraghi juz 10 hal.122). Adapun keistimewaan yg kedua disebutkan Allah pada awal ayat yg ke3 (surah yg sama): "Wa Yarzuqhu Min Haitsu La Yahtasibu";artinya: Dan Dia (Allah) akan memberinya rezeki yg tdk di-sangka2". (..bersambung…)

14 Juni 2010

Kematian

Kata Mati atau Kematian berasal dari bahasa 'Arab; yaitu Mata-Yamutu yang maknanya: "Firaqur-Ruh 'Anil-Jasad" (Berpisahnya ruh dari tubuh). Islam menegaskan bahwa kehidupan dan kematian mutlak milik Allah; berada di bawah ketentuan Allah, sesuai dengan dua Nama-Nya "Al-Muhyi Wal-Mumit": Dia-lah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan.

Mati; berpisahnya ruh dari tubuh adalah peristiwa besar yang akan dialami oleh semua makhluq hidup, sebagaimana firman-Nya: "Kullu Nafsin Dza-iqatul-Maut"; artinya: "Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian" (Surah Ali 'Imran ayat 185). Jadi, bagi kita yang masih hidup saat ini, hanya menunggu waktu giliran saja. Dan giliran itu pasti kan datang.


Nabi Muhammad saw menasehati kita agar selalu ingat akan kematian; Beliau bersabda: "Aktsiru Hadzimil-Ladzdzat:Al-Maut"; artinya: "Sering2lah kalian mengingat hal yang memutus kelezatan --Dunia-- yakni maut (kematian)" (H.R. At-Tirmidzi, An-Nasa-i dan Ibnu Majah). Hadits ini menyebutkan bahwa kematian membuat hilang seluruh kenikmatan Dunia.

Islam tidak pernah mengajarkan menghindari kematian, karena kematian memang tidak bisa dihindari, tetapi Islam mengajarkan untuk selalu bersiap menghadapi kematian, Nabi saw bersabda: "Al-Kayyisu Man Dana Nafshu Wa 'Amila Lima Ba'dal-Maut"; artinya: "Orang yang cerdas, ialah yang mampu menundukkan nafsunya, dan selalu melakukan --persiapan-- 'amal untuk.--menghadapi --resiko yang datang-- setelah kematian". HR Ahmad

Nabi Muhammad saw menggambarkan "kematian" sebagai sebuah perjalanan yang berat dan jauh; yaitu perjalanan menuju akhirat. Sabda Beliau kepada Abu Dzar: "Ya Aba Dzar, Jaddidis-Safinata Fa-Innal-Bahra 'Amiqun Wa Khudziz-Zada Kamilan Fa-Innass--Safara Ba'idun";artinya: "Ya Abu Dzar, pugarlah perahu-mu, karena lautan sangat dalam, dan bawalah bekal yang sempurna karena perjalanan sangat jauh...".

Para 'Ulama mengatakan yang dimaksud dengan "perahu" adalah niat dan yang dimaksud "bekal sempurna" adalah amal-shalih. Jadi, hadits ini memerintahkan untuk selalu memperbaiki niat agar selalu ikhlas kepada Allah, dan juga mengunakan kesempatan untuk melakukan amal shalih, meskipun sedikit. Nabi saw bersabda: "Akhlishil-'Amal Yajzika Minhul-Qalil"; artinya: "Ikhlaslah dalam. beramal,maka amal yang sedikit dapat mencukpi-mu".


Sehubungan dengan ini Nabi saw bersabda: "La Tahqiranna Minal-Ma'rufi Syai-an Wa Law An Talqa Akhaka Bi Wajhin Thalqin"; artinya: "Janganlah kamu menganggap sepele perbuatan baik yang sedikit; meskipun hanya memperlihatkan senyum ketika berjumpa dengan saudara-mu"(H.R. Ahmad, Muslim & At-Tirmidzi). Subhanallah alangkah sempurnanya Islam; sehingga masalah "senyum" pun mendapat perhatian dan menjadi anjuran.

Sumber Status FB Bang Deby

10 Juni 2010

Bekerja, Mencari Nafkah Menurut Islam

Nabi saw bersabda: "Man Sa'a 'Ala Walidaih Fafi Sabilillah, Wa Man Sa'a 'Ala 'Iyalihi Fafi Sabilillah,Wa Man Sa'a 'Ala Nafsihi Liya'iffahu Fahuwa Fi Sabilillah; artinya: "Siapa-saja yang berusaha --mencari rezeki-- untuk kedua orang tuanya, maka --ia-- di dalam Sabilillah, dan siapa-saja yang berusaha --mencari rezeki--untuk keluarga -- yang ia tanggung--, maka ia dalam Sabilillah. Dan siapa-saja yang bekerja --mencari rezeki-- untuk kehormatan dirinya, maka ia di dalam Sabilillah.. (H.R. Al-Bazzar,Abu Nu'aim dan Ash-Bahani.Al-Ahaditsush-Shahihah oleh Syaikh Al-Albani juz V hal. 272 no.2232).
Hadits ini menyatakan 3 (tiga) motivasi (niat) yang membuat "bekerja mencari nafqah" itu sama nilainya dengan "Jihad Fi Sabilillah", tentunya yang dimaksud disini melakukan pekerjaan yang halal.

Pertama: Dengan motivasi untuk menolong kedua orang tua.
Kedua:Dengan motivasi untuk keluarga yang ia tangung.
Ketiga:Dengan motivasi untuk menjaga kehormatan diri, yaitu agar tidak menjadi beban orang lain.

Adapun yang dimaksud dengan "Fi Sabilillah", ialah jika seseorang bekerja dengan 3 (tiga) motivasi atau salah satu dari 3(tiga) tersebut, lalu ia wafat, maka ia terhitung sebagai orang yang "mati syahid". Subhanallah Wal-Hamdulillah.

Mati syahid, adalah kematian yang sangat istimewa. Nabi saw. berkata ada 6 (enam) keistimewaan yang diperoleh oleh seorang yang mati syahid:
(1) Ketika tetesan darah yang pertama --jatuh ke bumi--, dihapuskan seluruh dosanya
(2) Ketika itu ia melihat tempat tinggalnya di Sorga
(3) Ia akan dinikahkan dengan bidadari yang cantik.
(4) Ia akan diselamatkan dari ketakutan besar --yg melanda manusia--
pada hari Kiamat
(5) Ia akan diselamatkan dari siksa kubur
(6) Ia akan dihiasi dengan pakaian keimanan (H.R. Ahmad).
Demikianlah ganjaran yang akan diterima bagi seorang muslim yang bekerja mencari nafqah dengan motivasi untuk orang tuanya, atau keluargannya atau dirinya.

Jadi, menurut Islam, bekerja mencari nafqah dengan motivasi tersebut, merupakan keshalehan atau amal-shaleh yang luar-biasa. Seluruh rasul (nabi) pun bekerja mencari nafqah, sebagaimana firman Allah: "Wa Ma Arsalnaka Qablaka Minal-Mursalina Illa Inahum Laya'kukunath-Tha'am Wa Yamsyuna Fil-Aswaq", artinya:
"Dan tidaklah Kami mengutus seluruh utusan (nabi) sebelum engkau
(Muhammad), kecuali mereka mengkonsumsi makanan dan berjalan di pasar".
(Surah Al-Furqan ayat 20). Jadi, menurut ayat ini, seluruh rasul (nabi) adalah manusia biasa yang membutuhkan makanan, dan mereka juga berjalan di pasar pasar untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Ibnu Katsir mengatakan, bahwa yang dimaksud berjalan di pasar-pasar ialah mereka
(para nabi) juga melakukan kegiatan ekonomi, yaitu bekerja atau berdagang di pasar. Pasar adalah tempat berkumpulnya berbagai jenis manusia, dari yang baik sampai yang paling buruk. Ayat ini secara eksplisit menegaskan, bahwa para nabi bergaul, membaur dengan semua jenis manusia di pasar, mereka bukan tokoh spiritual yang tinggal di menara gading

Ibnu Katsir juga mengatakan, bahwa para nabi dalam melakukan kegiatan ekonomi di pasar, bergaul dan membaur dengan semua jenis manusia tanpa pilih bulu, 4 (empat) sifat utama mereka, yaitu Shiddiq (Jujur), Amanah (Bisa dipercaya), Tabligh (Menyampaikan da'wah), dan Fathanah (Cerdas) tetap terpelihara, tidak terkontaminasi.
Rasulullah saw bersabda: "Inna Nabiyallahu Dawud 'Alaihis-Salam Ya'kulu Min 'Amali Yadihi"; artinya: "Sesungguhnya Nabi Allah Dawud a.s., ia makan dari hasil kerja tangannya" (H.R. Al-Bukhari). Nabi Dawud adalah seorang raja, penguasa dan kaya raya, namun ia tetap bekerja mencari nafqah dengan membuat industri baju besi dan peralatan perang dari besi (lihat surah As-Saba' (34) ayat 10&11)

Imam Al-Qurthubi mengatakan bahwa Nabi Dawud adalah seorang yang memiliki banyak keistimewaan dari Allah, namun ia masih juga bekerja keras mencari nafqah dengan mempelajari & memproduksi peralatan dari besi. Sikap Nabi Dawud ini sama sekali tidak mengurangi kedudukannya, justru menambah kemuliaannya.

Karena seorang yang bekerja keras dan halal akan mendapatkan 3 (tiga) keistimewaan di luar hasil materi, yang justru nilainya jauh melebihi materi.
Tiga (3) keistimewaan itu ialah :
(1) Sifat Tawadhu' (rendah hati), tidak angkuh
(2) Tidak bergantung kepada orang lain; memliki rasa percaya diri yang kuat
(3) Bersih dari omongan2 negatif; mendapat penghargaan dari orang lain (Lihat Tafsir Al-Qurthubi juz VII hal.553).

Dalam hadits lain Nabi saw bersabda: "Wa Kana Zakariyya Najjaran"; artinya: "Adalah Nabi Zakariyya itu seorang tukang kayu" (H.R. Ibnu Majah). Jika Nabi Dawud seorang ahli besi, maka Nabi Zakariyya seorg yang ahli kayu. Demikianlah para nabi, manusia pilihan Allah, mereka semua bekerja mencari nafqah termasuk Rasulullah saw.

Mereka (para nabi) semuanya terus menerus berda'wah memperjuangkan agama Allah dengan ikhlas dan tidak menjadikan tugas & kewajiban da'wah mereka sebagai sarana
mencari materi. Mereka semua berkata: "Wa Ma As-Alukum 'Alaihi Min Ajrin In Ajriya Illa 'Ala Rabbil-'Alamin; artinya: "Dan aku se-kali-kali tidak minta upah pada kalian --atas da'wah itu--, upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam".(Surah26 ayat 109,127,145,164&180).

Dan salah satu syarat "kebenaran" juru da'wah seorang da'i, ialah tidak ada unsur-unsur komersialisasi dalam da'wahnya; sebagaimana firman Allah: "Ittabi'u Man La Yas-alukum Ajran, Wa Hum Muhtadun"; artinya:"Ikutilah orang (juru da'wah) yang tidak minta balasan (upah) pada kalian. dan mereka adalah orang2 yang mendapat hidayah".(Surah Yasin ayat 21).

Ayat ini menyebutkan dua hal yang harus dimiliki oleh seorang juru da'wah:
Pertama: Tidak minta upah (bayaran) atas da'wahnya atau mengkomersilkan da'wahnya. Kedua: Memiliki hidayah (petunjuk), yaitu ilmu yang benar yang membedakan antara yang haq (benar) dan yang bathil (salah).

Disebutkan dalam sebuah riwayat:
"Innallaha Yuhibbu An Yaral-'Abda Yattakhidzul-Mihnata Liyastaghniya Biha 'Anin-Nasi, Wa Yubghidul-'Abda Yata'allamul-'Ilma Yattakhidzuhu Mihnatan": artinya: "Allah sangat suka melihat seorang hamba yang mengambil (berusaha) bekerja agar ia tidak bergantung kepada orang lain. Dan Allah sangat benci kepada seorang hamba yang belajar ilmu agama untuk dijadikannya sebagai mata pencaharian. (Al-Ihya' juz I hal. 484)

Dalam riwayat yang lain disebutkan: "Innallaha Yuhibbu An Yara 'Abdahu Ta'ban Fi Thalabil-Halal"; artinya: "Sesungguhnya Allah sangat suka melihat hamba-Nya yang letih karena bekerja mencari --rezeki-- yg halal". Jadi, tdk ada dalil yg menyatakan bhw Allah suka melihat hamba-Nya yang letih beribadah, letih karena shalat malam atau letih karena dzikir atau berdo'a dsb.

Bekerja keras mencari rezeki adalah perintah Allah; dlm surah Al-Mulk (67) ayat 15 "Huwalladzi Ja'ala Lakumul-Ardha Dzalulan Fam-syu Fi Manakibiha Wa Kulu Min Rizqihi, Wa Ilaihin-Nusyur";artinya:"Dia (Allah) Yang menjadikan bumi itu mudah buat kalian, maka berjalanlah di seluruh penjurunya,dan makanlah sebagian dari rezekinya. Dan kepada-Nya-lah tempat kembali".

15 abad yang lalu dimana sarana transportasi masih sangat terbatas, Allah (dlm ayat ini) sudah mengatakan bahwa bumi Ia jadikan mudah untuk diarungi, lalu Ia perintahkan; "Famsyu Fi Manakibiha"(Berjalanlah kalian diseluruh penjurunya); Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya.

Bahwa ayat ini merupakan perintah Allah untuk melakukan perjalanan ke seluruh penjuru bumi yang kalian inginkan, dan mondar-mandir di berbagai daerah dan negara lain dalam rangka melakukan berbagai pekerjaan dan berniaga". (Tafsir Ibnu Katsir juz IV hal.397)

Setelah Allah perintahkan kita menjelajahi dunia dlm rangka mencari rezeki dengan bekerja atau berdagang, Ia katakan:"Wa Kulu Min Rizqihi" (Makanlah dari rezeki-Nya);Ibnu Katsir mengatakan bhw bekerja atau berdagang --keluar negeri-- merupakan faktor penyebab datangnya rezeki; dan bersikap --proaktif-- seperti itu justru membuka peluang utk bertawakal kpd Allah,bukan sebaliknya (Ibnu Katsir juz IV hal.398)

Tawakal yaitu sikap menyerah sepenuhnya kepada keputusan Allah, hanya dibenarkan setelah kita melakukan usaha secara maksimal, sebagaimana sabda Nabi saw: "Law Annakum Tawakkaluna 'Alallahi Haqqa Tawakkulihi Larazaqakum Kama Yarzuquth-Thaira Taghdu Khimashan Wa Taruhu Bithanan"; artinya : "Seandainya kalian benar2 berserah diri (tawakal) kpd Allah --setelah melakukan upaya2 maksimal--,maka pasti Allah akan memberi rezeki kpd kalian,seperti Ia memberi rezeki kepada burung yang berangkat diwaktu pagi dalam keadaan lapar, dan pulang diwkt sore dalam keadaan kenyang".(H.R.At-Tirmidzi, An-Nasa-i dan Ibnu Majah).

Hadits ini mengajarkan pengertian tawakal (berserah diri) kepada Allah; yaitu berusaha mencari rezeki, seperti burung-burung yang pergi meninggalkan sarang mencari makan. Jadi, bukan pasrah, menyerah kepada nasib atau merasa cukup dengan do'a tanpa usaha. 'Umar bin Khaththab berkata:
La Yaq'udu Ahadukum 'An Thalabir-Rizqi,Yaqulu:Allahummar-Zuqni,Faqad 'Alimtum Annas-Sama-i La Tumthiru Dzahaban Wa La Fidhdhatan; artinya: "Jangan sampai seorang pun dari kalian --hanya--duduk2 saja tidak mencari rezeki, lalu ia berdo'a: "Ya Allah, berikan aku rezeki", padahal kalian sudah tahu bahwa langit tidak akan menurunkan emas dan perak. (Ihya' juz I hal. 485)

'Umar pernah berkata kpd temannya:"Ala Unabbi-ukum Manil-Mutawakkilun?"; artinya: "Maukah aku beritahukan kalian,siapakah sebenarnya orang yang bertawakal?". Temannya pun menjawab: "Baiklah". 'Umar pun berkata:"Huwal-Ladzi Yulqil-Habba Fil-Ardhi, Tsumma Yatawakkalu 'Ala Rabbihi 'Azza Wa Jalla";
artinya:"Orang yang bertawakal itu, ialah orang yang menanam benih ke dalam tanah (maksudnya: melakukan upaya memetik hasil), lalu ia berserah diri kepada Rabb-nya Yang Maha Mulia dan Maha Agung".(Nizhamil-Iqtishadi Fil-Islam hal.64). Jelaslah, tawakal dilakukan sesudah usaha. Tidak ada tawakal tanpa usaha.

Tawakal, pasrah kepada Allah setelah melakukan usaha yang maksimal, adalah sikap yang menjamin datangnya rezeki yang cukup, Allah berfirman: "Wa Man Yatawakkal 'Alal-Lahi Fahuwa Hasbuhu"; artinya: "Siapa-saja yang bertawakal kepada Allah, maka Ia pasti akan memberi kecukupan kepadanya". (Surah Ath-Thalaq ayat 3) Artinya, Allah akan memberikan hasil yang sangat cukup untuk kebutuhannya.

Tawakal juga merupakan syarat keimanan kepada Allah; firman-Nya: "Wa 'Alal-Lahi Fatawakkalu In Kuntum Mu'minin"; artinya: "Hendaklah kalian bertawakal kepada Allah jika kalian orang-orang yang beriman". (Surah Al-Maidah ayat 23)

Dan Tawakal akan mendatangkan kecintaan Allah; firman-Nya: "Innal-Laha Yuhibbul-Mutawakkilin"; artinya: "Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang2 yang bertawakal" (Surah Ali 'Imran ayat 159).

Berusaha adalah tindakan pertama, berdoa'a tindakan kedua dan tawakal adalah tindakan ketiga, Nabi saw bersabda: "Ihrish 'Ala Ma Yanfa'uka,Wasta'in Billahi, Wa La Ta'jizanna";artinya: "Kerahkan seluruh kemampuan-mu utk meraih apa saja yg bermanfaat; dan minta bantuanlah (berdo'a) kpd Allah; dan jangan engkau bersikap lemah (negatif thinking)" (H.R. Muslim) (Next)

Dalam hadits yang lain Nabi saw bersabda: "Wa In-Qamatis-Sa'ah Wa Fi Yadi Ahadikum Fasilatun, Fa-inis-Tatha'a An La Yaquma Hatta Yaghrisaha Fal-Yaghrisha"; artinya: "Meskipun Kiamat terjadi, tapi ditangan seorang dari kalian ada cangkokan pohon kurma, maka jika ia masih mampu (sempat) menanamnya sebelum berdiri, maka tanamlah" (H.R. Ahmad).

Subhanallah, coba perhatikan sabda Nabi saw ini: "Meskipun Kiamat, yaitu kehancuran alam semesta sedang berlangsung, tapi kalian masih memegang cangkokan pohon kurma, jika kalian masih sempat untuk menanamnya, tanamlah". Nabi saw tidak menyuruh membuang cangkokan pohon tsb.

Dengan kata-lain, Nabi saw tidak menyuruh seorang muslim berhenti bekerja meskipun kehancuran alam semesta sedang berlangsung, selama bekerja itu masih mungkin ia lakukan. Nabi saw tidak mengatakan percuma bekerja karena tidak akan ada hasil yang bisa dinikmati, toh alam semesta sudah hancur lebur. Nabi saw juga tidak mengatakan tinggalkan pekerjaan, lebih baik berdzikir dan berdo'a dalam suasana gawat seperti ini.

Tidak ! Nabi saw tidak mengatakan apa-apa kecuali teruskan pekerjaan walaupun Kiamat sedang berlangsung. Di sini terasa sekali arahan Nabi yang luar-biasa ini, bahwa bagi seorang muslim bekerja adalah perbuatan mulia, seorang muslim tidak dibenarkan mendikotomikan antara mu'amalah (bekerja mencari rezeki) dan amal ritual. Soal hasil ? Bukan urusan dia, itu urusan Allah semata.

'Umar bin Khaththab (r.a) pernah berkata: "Ma Min Maudhi'in Ya'tinil-Maut Fihi Ahabbu Ilayya Min Mauthinin Atasawwaqu Fihi Li-Ahli, Ubayyi' Wa Asytari"; artinya: "Tidak ada satu tempatpun yang aku sukai untuk mati di tempat tersebut, melainkan tempat (pasar) dimana aku melakukan usaha untuk keluarga-ku; yaitu berjual-beli" (Ihya juz I hal. 485).

Luqmanul-Hakim pernah menasehati anaknya; beliau berkata: "Ya Bunayya, istaghni bikasbil-halal minal-faqri"; artinya: "Hai anak-ku, jadikanlah diri-mu kaya dengan bekerja yang halal sehingga engkau bebas dari kefaqiran". Lalu beliau berkata: "Fa-inna Maftaqara Ahadun Illa Ashabahu Tsalatsu Hilalin"; artinya: "Karena, tidaklah seorang itu ditimpa kefaqiran, melain ia akan ditimpa 3 masalah", yaitu:
(1) Riqatu Fi dinih: "Tipis agamanya".
(2) Wa Dha'fu Fi 'Aqlihi: "Lemah aqalnya".
(3) Wa Dzahabu Muru-atihi: " Hilang sifat hati2nya". Lalu beliau berkata lagi: "Wa A'zhamu Min Hadzihits-Tsalatsi, Istikhfafun-Nasu Bihi"; artinya: Masih ada lagi yang lebih parah dari 3 masalah itu; yaitu: "Manusia memandang enteng kepadanya" (Ihya' juz I hal. 385)

Inilah bahaya yang dibawa oleh kefaqiran:
(1) Tipisnya agama atau ketaatan kepada Allah
(2) Lemahnya aqal alias tdk mampu berfikir panjang
(3) Tidak memiliki sifat hati2; ceroboh dalam bertindak. Akibatnya, lebih parah lagi; yaitu tidak dihormati oleh orang lain.

Wajarlah jika Nabi saw bersabda: "Ista'idzu Billahi Minal-Faqri
Wal-'Ilati"; artinya: "Minta perlindunganlah kalian kpd. Allah dari
kefaqiran dan kemiskinan" (H.R. Ath-Thabrani)

Sumber: FB Bang Deby

07 Mei 2010

Bersyukur Dengan Perbuatan

Bersyukur (menghargai nikmat) dengan perbuatan; Ibnul-Qayyim mengatakan ada 2 cara menghargai nikmat dgn perbuatan; pertama: menceritakan nikmat tersebut, dan kedua: menggunakan nikmat tersebut dalam hal yang diridhai Allah. Yang pertama dalilnya surah Adh-Dhuha ayat 11: Wa Amma Bini'mati Rabbika Fahaddits;artinya: "Adapun dengan nikmat Rabb-mu, maka ceritakanlah".

Menceritakan nikmat Allah ialah dalam rangka ingin berbagi bukan untuk pamer atau riya. Dan yg kedua dalilnya surah Al-Qashash ayat 77: "Wab-taghu Fima Atakallahud-Darul-Akhirah Wa La Tansa Nashibaka Minad-Dun-ya"; artinya: "Dan carilah dengan apa yang Allah anugerahkan kepada-mu (kebahagiaan) negeri akhirat dan jangan kamu lupakan bagian-mu dari (kenikmatan) dunia.

Ayat ini dengan jelas memerintahkan menggunakan potensi-potensi nikmat yang Allah berikan, seperti harta, kesehatan, ilmu dsb untuk mencari kebahagiaan akhirat, bukan untuk mencari kesenangan dunia; namun ayat ini juga mengingatkan untuk tidak melupakan bagian kenikmatan dunia, yaitu kenikmatan-kenikmatan yang dihalalkan oleh Allah. Dan orang yang menggunakan potensi-potensi nikmat untuk mencari akhirat akan memperoleh keutamaan yang luar-biasa.

Nabi saw bersabda: "Wa Man Kanatil-Akhiratu Niyatuhu Jama'allahu Lahu Amrahu, Wa Ja'ala Ghinahu Fi Qalbihi, Wa Atathud-Dun-ya Wa Hiya Raghimatun"; artinya: "Siapa-saja yang niatnya mencari akhirat,maka Allah akan menyelesaikan semua persoalannya, dan menjadikan kekayaan di hatinya; dan Dunia pun akan datang kepada.nya dengan menunduk". (H.R. Ibnu Majah).

Inilah makna bersyukur atau mensyukuri (menghargai) nikmat yang sesungguhnya; dengan lisan, hati dan perbuatan. Ibnul-Qayyim berkata: "Fa-idza Fa'ala Dzalika Faqad Syakaraha"; artinya: "Siapa-saja yang telah melakukan -- ke-3 (tiga) hal-- ini, maka ia benar-benar telah bersyukur".

Dan dengan bersyukur seperti ini, segala nikmat yang dimiliki akan terjaga, tidak akan lepas, bahkan akan semakin bertambah. Inilah yang dimaksud dengan: La-in Syakartum La-azidannakum" (Surah Ibrahim ayat 7); artinya: "Jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah --nikmat-- untuk kalian.

Disamping bersyukur kepada Allah, kita juga diperintah untuk bersyukur kepada manusia; yaitu menghargai jasa atau perbuatan oranglain terhadap kita. Sabda Nabi saw.: "Man Lam Yasykurin-Nasa Lam Yasykuril-Laha"; artinya: "Siapa-saja yang tidak bersyukur --menghargai-- manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah".

Dalam hal ini kita bisa menyaksikan dan mencontoh Rasulullah saw; betapa Beliau sangat menghargai manusia, khususnya para sahabatnya yang setia. Dan Beliau saw melarang siapa pun mencaci sahabatnya, sabda Beliau: "La Tasubbu Ash-habi"; artinya: "Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku. Sekian (Wallahu A'lam)

Bersyukur Dengan Hati

Bersyukur (menghargai nikmat) dengan hati. Imam Ibnul-Qayyim mengistilahkannya dengan "Al-I'tirafu Biha Bathinan"; artinya: "Mengakui nikmat tersebut secara batin". Maksudnya, hatinya benar-benar mengakui bahwa nikmat itu se-mata-mata pemberian Allah. Bersyukur dengan hati lebih sulit daripada bersyukur dengan lisan/ucapan.

Rasulullah saw telah memerintahkan hal ini, sabda Beliau: "Liyattakhidz Ahadukum Qalban Syakiran.."; artinya: "Hendaklah tiap seseorang diantara kalian --berusaha-- membuat hatinya selalu bersyukur...". Bagaimana petunjuk Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. untuk. membuat hati selalu bersyukur kepada Allah?

Bersyukur dengan hati atau membuat hati selalu bersyukur kepada Allah, dilakukan dengan 2 (dua) cara:
PERTAMA: Selalu mengingat nikmat Allah, terutama sekali nikmat Al-Quran dan Hikmah, sebagaimana firman Allah: "Wadzkuru Ni'matallahi 'Alaikum Wa Ma Anzala 'Alaikum-minal-Kitab Wal-Hikmah Ya'izhukum Bihi".

artinya: "Dan ingatlah selalu akan nikmat Allah, dan juga apa yang Dia turunkan untuk kalian dari Al-Kitab (Al-Quran) serta Hikmah; yang dengannya (Al-Quran), Dia memberi nasehat kepada kalian" (Surah Al-Baqarah :231). Adapun yang dimaksud "Hikmah" ialah: Perkara yang benar dan lurus, keadilan, pengetahuan dan sikap santun. Ayat ini menyatakan bahwa Al-Quran dan Hikmah adalah nikmat yang besar yang harus selalu diingat.

Ibnu Hajar mengatakan: Mengingat ayat-ayat Allah dan nikmat-nikmat Allah akan melahirkan 4 (empat) sikap utama:
(1) Tauhid; yaitu percaya sepenuhnya terhadap ke-Esaan Allah dalam. Dzat, Perbuatan dan Sifat; tidak ada seorang pun yang menyamai-Nya
(2) Keyakinan; yaitu yakin terhadap semua janji-janji Allah
(3) Rasa Cinta kepada Allah, dan
(4) Perasaan bersyukur atau kesyukuran hati.

KEDUA: ialah dengan memperbanyak berdzikir; yaitu mengingat dan menyebut nama Allah; sebagaimana firman-Nya: "Fadzkuruni Adzkurkum, Wasy-Kuruli Wa La Takfurun"; artinya: "Maka berdzikirlah (ingatlah) kalian kepada-Ku, maka Aku pun akan mengingat kalian, dan bersyukurlah kepada.-Ku, dan jangan mengingkari --nikmat--Ku. (Surah Al-Baqarah:152).

Disebutkan bahwa Nabi Musa a.s. pernah bertanya kepada Allah: "Wahai Rabb-ku, bagaimanakah cara aku bersyukur kepada Mu". Maka Allah SWT menjawab:"Tadzkuruni Wa La Tansani, Fa-Idza Dzakartani Faqad Syakartani, WA Idza Nasitani Faqad Kafartani"; artinya: "Berdzikirlah (Ingatlah) engkau senantiasa kpd.-Ku; jangan engkau lalai (lupa) dari –mengingat-Ku.

maka jika engkau senantiasa berdzikir kpd.-ku; berarti engkau bersyukur kepada-.Ku; dan jika engkau lalai (lupa) dari --mengingat--Ku, maka berarti engkau mengingkari --nikmat--Ku. Jadi, banyak berdzikir kepada Allah akan mendorong hati bersyukur kepada nikmat Allah. Inilah pengikat nikmat yang kedua; bersyukur dengan hati.

Nabi saw. menunjukkan cara menjaga hati agar tetap mensyukuri nikmat Allah; sabda Beliau: "Idza Nazhara Ahadukum Ila Man Fudhdhila 'Alaihi Fil-Mal Wal-Khalq, Fal-yanzhur Ila Man Huwa Asfala Minhu"; artinya:"Jika seorang dari kalian melihat orang lain yang diberi kelebihan dalam harta dan ketampanan,maka hendaklah ia melihat orang yang dibawahnya" (H.R. Mulim).

Dalam hadits lain, sabda Nabi saw:"Fahuwa Ajdaru An-La Tazdaru Ni'matallahi 'Alaikum" artinya: "Maka --melihat orang yang di bawah kalian-- merupakan sikap yang tepat untuk tidak meremehkan nikmat Allah pada Kalian" (Muttafaqun 'Alaih). Yang dimaksud "melihat orang yang di bawah" ialah: "Org yang kondisi ekonomi berada dibawah kita, lebih susah dari kita, banyak mendapat cobaan seperti: sakit, cacat fisik, buta dsb."

"Dan jangalah engkau tujukan pandangan mata-mu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan Dunia,agar Kami uji mrk. dengan kesenangan itu. Karunia Rabb-mu lebih baik dan lebih kekal" (Surah Thaha ayat 131).

Disebutkan dalam sebuah hadits Qudsi: "An-Nazharu Sahmun Min Sihami Iblis, Wa Man Tarakahu Makhafati Abdaltuhu 'Ibadatan Yajid Halawataha"; artinya: "Pandangan (mata) merupakan panah dari panah-panah Iblis yang beracun. Dan siapa-saja yang meninggalkannya --tidak mengikuti dorongannya-- karena merasa takut kepada-Ku (Allah), maka Aku akan memberi ganti untuknya dengan ibadah (ketaatan) yang ia dapat merasakan manisnya --ketaatan –“