20 Januari 2020
Sirah Nabi Bag 5 : Nadzar Abdul Muthalib
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد
Bernadzar
Abdul Muthalib bernadzar,
" Kalau saja aku mempunyai 10 anak laki-laki, kemudian setelah semuanya dewasa, aku tidak memperoleh anak lagi seperti ketika sedang menggali Sumur Zamzam, maka salah seorang diantara 10 anak itu akan kusembelih di Ka'bah sebagai kurban untuk Tuhan "
Ternyata takdir memang menentukan demikian.
Abdul Muthalib akhirnya mendapat 10 orang anak laki-laki.
Setelah semua anak berangkat dewasa, ia tidak memperoleh anak.
Dipanggilnya kesepuluh orang anak itu, termasuk si bungsu Abdullah yang amat disayangi dan dicintainya.
" Aku pernah bernadzar untuk menyembelih salah seorang di antara kalian jika Tuhan memberiku 10 orang anak laki-laki "
Kesepuluh anaknya terdiam.
Mereka memahami persoalan itu.
Mereka juga melihat kebingungan yang luar biasa di mata ayah mereka yang berkaca-kaca.
" Namun, aku tidak bisa menentukan siapa di antara kalian yang harus kusembelih. Oleh karena, aku berniat memanggil juru qidh untuk menentukannya "
Di hadapan patung dewa tertinggi Ka'bah, juru qidh (Anak panah) meminta setiap anak menulis namanya masing-masing di atas qidh.
Kemudian, ia mengocok anak panah tersebut di hadapan berhala Hubal.
Nama anak yang keluar adalah Abdullah.
Melihat itu, serentak orang orang Quraisy datang dan melarangnya melakukan perbuatan itu.
" Batalkan keinginanmu, Abdul Muthalib !
Mohon ampunlah kepada Hubal supaya kamu bisa membatalkan nadzarmu ! "
Sanggupkah Abdul Muthalib menyembelih anak kesayangannya, apalagi tidak ada orang yang menyetujui niatnya itu ?
Menemukan Zamzam
Malam harinya, dengan tubuh lelah, Abdul Muthalib tertidur.
Tiba-tiba, dalam tidur, dia bermimpi mendengar suara yang bergema berulang-ulang,
" Temukan Sumur Zamzam itu, wahai Abdul Muthalib !
Temukan Sumur Zamzam !
Temukan ! "
Abdul Muthalib terbangun dengan keyakinan dan semangat baru.
Esoknya, dia mengajak Harits menggali dan menggali lebih giat.
Rasa heran orang-orang Quraisy yang melihatnya berubah menjadi tawa.
" Kasihan Abdul Muthalib, mungkin dia sudah kehilangan akal sehatnya ! " kata mereka satu sama lain.
Suatu saat, ketika mereka sedang menggali di antara berhala Isaf dan Na'ila, air membersit.
" Air !
Harits !
Lihat, ada air ! "
Seru Abdul Muthalib saking kagetnya.
" Ayo kita gali terus, Ayah !
Ayo gali terus ! "
Ketika mereka menggali lebih dalam, tampaklah pedang-pedang dan pelana emas yang pernah ditaruh oleh Mudzaz bin Amr dahulu.
Melihat penemuan itu, orang-orang Quraisy datang berbondong-bondong.
" Abdul Muthalib, mari kita berbagi air dan harta emas itu ! " pinta mereka.
" Tidak !
Tetapi, marilah kita mengadu nasib di antara aku dan kamu sekalian dengan permainan _qidh (anak panah)._
Dua anak panah buat Ka'bah, dua buat aku, dan dua buat kamu.
Kalau anak panah itu keluar, dia mendapat bagian.
Kalau tidak, dia tidak mendapat apa-apa."
Usul ini disetujui.
Juru qidh mengundinya di tengah-tengah berhala di depan Ka'bah.
Ternyata, anak panah Quraisy tidak ada yang keluar.
Pemenangnya adalah Abdul Muthalib dan Ka'bah.
Oleh karena itu, Abdul Muthalib dapat meneruskan tugasnya mengurus air dan keperluan para tamu Mekah setelah Sumur Zamzam memancar kembali.
Mengingat beratnya tugas itu. Abdul Muthalib sangat ingin agar dia mempunyai banyak anak laki-laki yang dapat membantunya.
Pedang dan Pelana Emas
Abdul Muthalib memasang pedang-pedang itu di pintu Ka'bah, sedangkan pelana-pelana emas ditaruh di dalam rumah suci itu sebagai perhiasan.
Bersambung
Sirah Nabi Bag 4: Harta Abdul Muthalib
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد
Harta Abdul Muthalib
Setelah tumbuh dewasa, Abdul Muthalib pun menjadi seorang pemuka Mekah sebagaimana Hasyim, bapaknya.
Sementera itu, ketika Hasyim meninggal, hartanya dikuasai oleh Naufal, adiknya yang terkecil.
Setelah dewasa, Abdul Muthalib hendak meminta harta ayahnya, tetapi Naufal menolak. Abdul Muthalib pun meminta bantuan kerabat ibunya yang tinggal di Yatsrib. Orang-orang Yatsrib mengirimkan 80 pasukan berkuda. Naufal pun ketakutan dan menyerahkan harta Hasyim kepada Abdul Muthalib
Pada zaman pemerintahannya, Abdul Muthalib melakukan sebuah perbuatan yang akan dikenang orang sepanjang zaman.
Sumber Air Mekah
Abdul Muthalib adalah pengurus air dan makanan bagi tamu-tamu yang datang ke Mekah. Setelah ratusan tahun Sumur Zamzam tertimbun, air harus didatangkan dari beberapa sumur yang terpencar-pencar di sekitar Mekah.
MENGGALI SUMUR ZAMZAM
Saat itu, Sumur Zamzam telah terkubur dan dilupakan orang selama ratusan tahun. Namun, Abdul Muthalib tidak pernah lupa pada sejarah Mekah, bahwa dulu pernah ada mata air yang menghidupi Mekah, mata air yang memancar keluar oleh kaki Ismail.
"Aku harus menemukannya!" pikir Abdul Muthalib. "Aku harus menemukan kembali Sumur Zamzam yang telah dilupakan orang! Apalagi aku bertugas menyediakan air dan makanan bagi penduduk Mekah."
Pikiran seperti itu tidak pernah hilang dari benaknya, "Aku harus menemukannya! Aku harus menemukannya!"
Setelah itu, Abdul Muthalib mengambil tembilang (alat untuk menggali bertangkai panjang) dan memanggil putra satu-satunya, "Harits, temani ayah mencari dan menggali kembali Sumur Zamzam!"
Harits mengangguk. Kemudian, mereka mulai mencari di mana dulu letak Mata Air Zamzam berada. Setelah beberapa kali mencoba menggali di beberapa tempat, Sumur Zamzam tidak juga ditemukan.
"Ayah, mungkin Sumur Zamzam memang telah hilang," kata Harits.
"Tidak Nak, Ayah yakin Sumur itu masih ada! Kita harus menemukannya! Orang-orang Mekah akan hidup lebih baik jika Sumur Zamzam ada di tengah kita!"
Dengan gigih keduanya pun terus mencari sumur Zam-Zam.
Orang-orang Quraisy, penduduk asli Mekah, melihat perbuatan mereka dengan heran.
"Mengapa engkau masih terus menggali, Abdul Muthalib? Bukankah dulu nenek moyang kita, Mudzaz bin Amr pernah menggalinya, tapi tidak berhasil?"
Abdul Muthalib menaruh tembilangnya dan duduk.
Ya, ratusan tahun yang lalu Mudzaz bin Amr mertua Nabi Ismail عليه ااسلام pernah mencoba menggali Zamzam tapi tidak berhasil.
Padahal, saat itu Mudzaz telah mempersembahkan sesaji berupa pedang dan pelana berpangkal emas agar Sumur Zamzam ditemukan.
Bersambung.
17 Januari 2020
Bekerja Dan Mencari Nafkah
Firman Allâh SWT. yang artinya:
"Dan telah Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan (bekerja)".
(Surah An-Naba' (78):11)
Allâh menyebutkan hal ini sebagai sindiran -- untuk mengingatkan -- kebaikan atau anugerah-Nya. (Bahwa, kesempatan bekerja mencari nafkah di siang hari merupakan anugerah Allâh)
Allâh berfirman dalam Surah Al-A'râf (7):10 yang artinya:
"Dan telah Kami jadikan untuk kalian di muka bumi (sumber-sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kalian bersyukur".
(Surah Al-A'râf (7):10)
Rabb-mu telah menyatakan -- dalam ayat ini -- bahwa sumber-sumber penghidupan di bumi itu merupakan nikmat, dan Dia menuntut -- kalian -- untuk mensyukurinya.
Allâh SWT berfirman, yang artinya:
"Tidak ada dosa atas kalian jika kalian mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Rabb kalian".
(Surah Al-Baqarah (2):198)
Allâh SWT berfirman, yang artinya:
"Dan yang lain melakukan perjalanan di muka bumi -- dalam rangka -- mencari karunia Allâh".
(Surah Al-Muzzammil (73):20)
Allâh SWT berfirman, yang artinya:
"Maka bertebaranlah kalian di muka bumi, dan carilah karunia Allâh".
(Surah Al-Jumu'ah (62):10)
Adapun informasi dari hadits mengenai hal ini, ialah sabda Rasûlullâh saw. yang artinya:
"Sebagian dari dosa ada dosa yang tidak bisa dihapus kecuali oleh keinginan yang kuat untuk mencari penghidupan".
Dan sabda Nabi saw.:
Artinya:
"Pedagang (Pengusaha) yang jujur akan dikumpulkan pada hari Qiyamat -- nanti -- bersama-sama shidd qîn dan orang-orang yang mati syahid".
Dan sabda Nabi saw.:
Artinya:
"Siapa-saja yang mencari dunia dengan cara halal, untuk menjaga diri dari minta-minta, atau untuk berusaha -- memberi nafqah -- kepada keluarganya, atau untuk beriuat baik -- menolong -- tetangga, maka ia kan bertemu dengan Allâh -- pada hari Qiyamat --, dengan wajah seperti rembulan dimalam purnama".
Dan pernah suatu ketika Nabi saw. duduk bersama para shahabatnya, tiba-tiba mereka melihat seorang pemuda yang memiliki ketabahan dan kekuatan berangkat pada pagi hari sekali untuk bekerja. Maka mereka pun berkata:
Artinya:
"Kasihan sekali ini pemuda, alangkah baiknya jika masa mudanya dan kekuatannya ia gunakan fî sabîlillâh".
Maka Nabi saw. pun bersabda:
Artinya:
"Jangan kalian berkata seperti ini, karena jika ia bekerja untuk -- menanggung -- dirinya, agar ia dapat menahan dirinya dari minta-minta dan mencukupinya dari -- ketergantungan -- kepada manusia, maka ia dalam sabîlillâh; dan jika ia bekerja untuk kedua orang tua yang telah lemah atau untuk anak-anak yang masih kecil, agar ia -- dapat -- memenuhi dan mencukupi kebutuhan mereka, maka ia pun dalam sabîlillâh. Akan tetapi, jika ia bekerja untuk mencari kemegahan dan menumpuk-numpuk harta, maka ia berada di jalan syaithân".
Dan sabda Nabi saw.:
Artinya:
"Sesungguhnya Allâh sangat mencintai seorang hamba yang berusaha mendapatkan pekerjaan agar ia dapat mencukupkan -- dirinya -- dengan pekerjaan itu dari ketergantungan kepada manusia, dan Allâh sangat benci terhadap seorang hamba yang mempelajari ilmu -- agama -- untuk mempergunakan ilmu itu sebagai pekerjaan".
(Maksudnya: Menggunakan ilmu agama untuk bekerja mencari uang)
Dalam suatu riwayat disebutkan:
Artinya:
"Sesungguhnya Allâh sangat mencintai seorang mu'min yang bekerja keras -- mencari nafqah --".
Dan sabda Nabi saw.:
Artinya:
"Sehalal-halal (Sebaik-baik) apa yang di makan oleh seseorang adalah dari -- hasil -- pekerjaannya dan juga dari setiap jual-beli yang baik".
Dalam riwayat yang lain:
Artinya:
"Sebaik-baik apa yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil jerih payah tangan yang berusaha, yaitu jika ia jujur -- dalam berusaha--".
Dan sabda Nabi saw.:
Artinya:
"Hendaklah kalian -- berusaha --dengan usaha dagang, karena di dalamnya terdapat sembilan per-sepuluh rezeki".
(Maksudnya: 90 % rezeki terdapat dalam perdagangan atau usaha dagang)
Diriwayatkan bahwa Nabi 'Isâ a.s. melihat seorang pria, lalu beliau bertanya kepadanya:
Artinya:
"Apa yang sedang anda kerjakan?".
Orang itu menjawab:
Artinya:
"Aku melakukan 'ibadah".
Beliau bertanya lagi:
Atinya:
"Siapa yang menjamin-mu?".
Orang itu menjawab:
Artinya:
"Saudara-ku".
Maka dengan tegas Nabi ‘Isâ a.s. berkata:
Artinya:
"Saudara-mu -- yang menjamin-mu itu -- lebih ber'ibadah daripada-mu".
Dan Nabi kita saw. bersabda:
Artinya:
"Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun -- ucapan dan perbuatan -- yang aku ketahui dapat mendekatkan kalian ke Surga dan menjauhkan kalian dari Neraka, melainkan telah aku perintahkan kepada kalian -- untuk melakukannya --; dan tidak ada sesuatu pun -- ucapan dan perbuatan -- yang aku ketahui dapat menjauhkan kalian dari Surga dan mendekatkan kalian ke Neraka, melainkan telah aku larang kalian -- melakukannya".
(Maksudnya: Semua ucapan dan perbuatan yang baik menurut syari'at, yang dapat membuat kaum Muslimîn masuk Surga dan selamat dari Neraka, telah diajarkan dan diperintahkan oleh Nabi saw. untuk dilakukan, demikian pula sebaliknya).
Lalu Nabi kita saw. melanjutkan sabdanya:
Artinya:
"Dan sesungguhnya Rûhul-Amîn (Jibrîl) berbisik ke dalam hati-ku: Sesungguhnya. tidak ada seorang pun yang menemui kematian melainkan disempurnakan rezekinya walaupun terlambat. Maka bertaqwalah kalian kepada Allâh, dan bersungguh-sungguhlah dalam mencari -- rezeki --".
Nabi saw. memerintahkan untuk bersungguh-sungguh mencari rezeki -- meskipun terlambat, yaitu telah berumur ---, Beliau tidak berkata -- kalau sudah terlambat (tua) --: "Tinggalkanlah usaha mencari rezeki". Lalu Beliau melanjutkan sabdanya:
Artinya:
"Dan janganlah terlambatnya sesuatu daripada rezeki mendorong kalian untuk mendapatkannya dengan cara ma'shiyat kepada Allâh Ta'âlâ. Karena Allâh -- tidak membenarkan -- cara ma'shiyat untuk memperoleh -- rezeki -- yang ada di sisi-Nya".
Dan Nabi saw. bersabda:
Artinya:
"Pasar-pasar adalah hidangan Allâh Ta'âlâ, dan siapa-saja yang mendatanginya, ia tentu mendapat bagian dari hidangan itu".
(Maksudnya: Siapa-saja yang datang ke pasar-pasar dalam rangka berusaha mencari rezeki, pasti ia akan mendapatkannya).
Dan Nabi saw. bersabda:
Artinya:
"Niscaya jika salah seorang dari kalian mengambil tali milikinya, lalu ia -- mengikat -- dan memikul kayu di punggungnya, -- pekerjaan -- itu jauh lebih baik daripada ia mendatangi seseorang yang diberi keistimewaan (kekayaan) oleh Allâh, lalu ia minta-minta kepadanya, yang kadang diberi atau tidak diberi".
Dan Nabi saw. bersabda:
Artinya:
"Siapa-saja yang membuka satu pintu minta-minta bagi dirinya, maka Allâh akan membuka tujuh-puluh pintu kefaqiran untuknya".
Adapun atsar-atsar yang berkaitan dengan masalah ini, di antaranya ialah ucapan Luqmânul-Hakîm kepada puteranya:
Artinya:
"Wahai anak-ku, carilah kekayaan dengan pekerjaan yang halal, -- sehingga engkau selamat -- dari kefaqiran".
Lalu beliau berkata lagi:
Artinya:
"Karena sesungguhnya, tidak ada seorang pun menjadi faqir melainkan ia tertimpa tiga masalah: (1) Tipis agamanya, (2) Lemah aqalnya dan (3) Hilang kehati-hatiannya. Dan masih ada lagi yang lebih besar dari itu: manusia menganggap remeh padanya".
Dan 'Umar r.a. berkata:
Artinya:
Janganlah salah seorang dari kalian hanya duduk saja tidak mencari rezeki, lalu dia berdo'a: "Ya Allâh, berikanlah aku rezeki". Padahal kalian benar-benar telah mengetahui bahwa langit tidak pernah menurunkan emas dan tidak juga perak".
Disebutkan bahwa Zaid bin Maslamah bercocok tanam di kebunnya, maka berkatalah 'Umar r.a. kepadanya:
Artinya:
Tepat sekali -- tindakan -- engkau, cukupkanlah diri-mu -- sehingga engkau bebas tidak bergantung -- pada manusia, dan -- kecukupan harta -- akan melindungi agama-mu dan memuliakan-mu di atas mereka, sebagaimana ucapan teman kalian dalam keadaan marah:
"Aku tidak akan berhenti di atas busur melontarkan -- panah -- dengannya".
(Maksudnya: Aku tidak akan berhenti berusaha dengan segala kemampuan untuk memperoleh harta)
"Sesungguhnya orang yang terhormat di antara saudara ialah yang memiliki harta".
Dan Ibnu Mas'ûd r.a. berkata:
Artinya:
"Sesungguhnya aku sangat benci jika melihat seseorang yang kosong (menganggur), tidak melakukan urusan dunianya dan tidak juga melakukan urusan akhiratnya".
Dan Ibrâhîm pernah ditanya tentang seorang pengusaha yang jujur, apakah orang seperti itu yang lebih ia sukai atau seorang lain yang mengosongkan waktunya untuk ber'ibadah?. Maka Ibrâhîm pun menjawab:
Artinya:
"Pengusaha yang jujur lebih aku sukai, karena ia dalam keadaan berjihâd, syathân akan mendatanginya melalui jalan takaran dan timbangan dan juga ketika ia mengambil atau memberi, maka ia berjihâd terhadapnya".
Namun, Al-Hassan (Al-Bishrî) tidak menerima pendapat ini. Sedangkan 'Umar r.a pernah berkata:
Artinya:
"Tidak ada satu tempat pun yang lebih aku sukai untuk mati di dalamnya kecuali tempat (pasar) di mana aku melakukan usaha untuk keluarga-ku, yaitu menjual dan membeli".
Dan Al-Haitsam berkata:
Artinya:
"Terkadang datang berita kepada-ku, tentang seseorang yang mencela diri-ku, namun aku teringat bahwa aku tidak membutuhkannya, maka aku pun merasa ringan dengan hal itu".
Dan Ayyûb berkata:
Artinya:
"Pekerjaan yang di dalamnya ada sesuatu lebih aku sukai daripada minta-minta pada manusia".
Pada suatu hari angin bertiup dengan keras di tengah laut, maka nakhoda perahu berkata kepada Ibrâhîm bin Ad-ham yang ada di tengah-tengah mereka:
Artinya:
"Apakah menurut-mu -- angin -- ini berbahaya?".
Maka Ibrâhîm bin Ad-ham pun menjawab:
Artinya:
"Ini -- angin -- tidak berbahaya, akan tetapi bahaya yang sesungguhnya adalah kebutuhan (ketergantungan) kepada manusia".
Ayyûb berkata: Abû Qilâbah pernah berkata kepada-ku:
Artinya:
"Tetaplah -- mencari rezeki -- di pasar, karena kecukupan -- rezeki -- termasuk kesejahteraan, yaitu kesejahteraan -- yang membuat tidak terikat -- dengan manusia".
Al-Imâm Ahmad pernah ditanya tentang seorang yang duduk saja di rumahnya atau di masjidnya, lalu ia berkata: "Aku tidak akan mengerjakan sesuatu pun sehingga rezeki-ku datang sendiri kepada-ku". Maka Al-Imâm Ahmad berkata:
Artinya:
"Ini orang yang bodoh yang tidak mengerti ilmu, apakah ia tidak pernah mendengar ucapan Nabi saw.: "Sesungguhnya Allâh menjadikan rezeki-ku di bawah naungan tombak-ku".
(Maksudnya: Tombak adalah senjata untuk berburu dan berperang, namun dia baru bisa mendatang hasil kalau digunakan, kalau tidak digunakan tidak akan menghasilkan apa-apa).
Dan Nabi saw. pernah bersabda ketika Beliau menceritakan tentang aktivitas burung-burung:
Artinya:
"Mereka (burung-burung) berangkat diwaktu pagi dalam keadaan lapar, dan pulang diwaktu sore dalam keadaan kenyang".
Beliau saw. menyebutkan bahwa burung-burung itu berangkat diwaktu pagi dalam rangka mencari rezeki., dan seperti itulah para shahabat Rasûlullâh saw., di antara mereka ada yang berdagang mengarungi daratan dan menyeberangi lautan dan ada juga yang mengolah kebun-kebun kurma; dan merekalah panutan. Abû Qilâbah pernah berkata kepada seseorang:
Artinya:
"Seandainya aku melihat-mu mencari penghidupan (rezeki) lebih aku sukai daripada melihat-mu -- duduk -- di serambi masjid".
Diriwayatkan bahwa Al-Auzâ'î bertemu dengan Ibrâhîm bin Ad-ham rahimahullâh, dan di tengkuk Ibrâhîm ada seikat kayu bakar, maka berkatalah Al-Auzâ'î kepadanya:
Artinya:
"Wahai Abâ Ishâq (panggilan Ibrâhîm bin Ad-ham), sampai kapan -- engkau bekerja seperti -- ini? Padahal saudara-saudara-mu telah mencukupi -- kebutuhan --mu".
Maka Ibrâhîm bin Ad-ham pun menjawab:
Artinya:
"Biarkanlah aku seperti ini wahai Abâ 'Amr (panggilan Al-Auzâ'î), sesungguhnya telah sampai kepada-ku sebuah berita -- yang menyatakan -- bahwa siapa-saja yang berdiri di tempat yang rendah (hina) dalam rangka mencari rezeki yang halal, maka wajiblah ia mendapat Surga".
Dan Abû Sulaimân Ad-Dârânî berkata:
Artinya:
"Bukanlah 'ibadah menurut kami, jika engkau menegakkan kedua telapak kaki-mu -- melakukan shalat --, sedangkan orang selain-mu memberi makan pada-mu, akan tetapi mulailah dengan dua buah roti milik-mu -- sebagai bekal --, simpanlah keduanya dan ber'ibadahlah".
Mu'âdz bin Jabal r.a. berkata:
Artinya:
Akan menyeru seorang penyeru pada hari Qiyamat: "Dimanakah orang-orang yang dibenci Allâh?". Maka berdirilah para pengemis -- yang suka minta-minta -- di masjid-masjid. Ini adalah perbuatan yang dicela oleh syari'at, karena suka mengemis dan pasrah saja kepada pemberian orang lain. Dan siapa-saja yang tidak memiliki harta waris, maka tidak ada yang menyelamatkannya dari -- perbuatan -- itu, kecuali bekerja dan berniaga".
(Dinuqil dari kitab Ihyâ' 'Ulûmud-Dîn karya Al-Imâm Al-Ghazâlî (rahimahullâh) hal. 383 - 386)
Sirah Nabi Bag 3: Jaman Jahiliyah
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد
Perampok Kejam dan Tidak Sopan
Mencuri dan merampok saat itu adalah hal yang biasa. Hanya sebagian kecil saja orang yang tidak pernah melakukannya. Perampok pun bukan cuma mengincar harta dan benda, tetapi juga orang yang dirampok. Perampok biasa menjadikan orang orang yang telah dirampoknya menjadi tawanan dan budak belian.
Saat itu perilaku bangsa Arab amat kejam, sampai melewati batas perikemanusiaan. Anak-anak perempuannya sendiri mereka bunuh. Ada yang dikubur hidup hidup ke dalam tanah, ada pula yang ditaruh dalam tong dan diluncurkan dari tempat yang tinggi. Mereka malu jika mempunyai anak perempuan.
Mereka juga suka menyiksa binatang. Jika seseorang mati, keluarganya mengikat unta diatas kuburan dan tidak memberikan makan serta minum sampai si unta mati. Mereka beranggapan unta itu kelak akan menjadi tunggangan si mati.
Musuh yang tertangkap diperlakukan sangat kejam. Mereka biasa mengikat musuh pada seekor kuda dan membiarkan kuda tersebut berlari sehingga orang yang diikat itu mati terseret-seret. Telinga atau hidung musuh yang kalah dijadikan kalung, serta tengkorak nya dijadikan tempat minum arak.
Orang jahiliyah juga tidak mengenal sopan santun, Mereka biasa berkeliling Ka'bah tanpa memakai pakaian.
Begitulah kebiasaan Orang Orang Arab saat itu.
Mereka adalah bangsa yang maju perdagangannya, pandai membuat perkakas, membuat obat, ahli astronomi, serta mahir bersyair. Namun mereka juga mempunyai kebiasaan buruk.
Memakan Bangkai Binatang
Dalam urusan makan dan minum pun tidak ada yang dilarang. Segala macam binatang boleh dimakan. Binatang yang sudah mati pun disayat dagingnya, dibakar, dan dimakan. Mereka juga suka meminum darah, binatang, dan makanan darah yang dibekukan.
Muthalib
Suatu hari, Hasyim pergi berdagang menuju Syam. Ketika melewati Yatsrib, (di kemudian hari disebut Madinah), Hasyim melihat seorang wanita baik-baik dan terpandang.
"Siapakah wanita itu?" tanya Hasyim kepada orang-orang Yatsrib.
"Dia adalah Salma binti Amr."
"Suaminya telah tiada. Kini dia seorang janda."
Mendengar itu, Hasyim melamar Salma dan Salma pun menerimanya. Mereka lalu menikah. Hasyim tinggal di Yatsrib beberapa lama. Ketika Salma mengandung, Hasyim melanjutkan perniagaannya. Namun, itulah kali terakhir Salma melihat suaminya karena Hasyim tidak pernah kembali lagi. Ia meninggal dunia di Palestina.
Salma melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Syaibah. Sementara itu, sepeninggal Hasyim, kedudukannya sebagai pemuka masyarakat Mekah dipegang oleh adik Hasyim yang bernama Al Muthalib.
Al Muthalib juga seorang laki-laki terpandang yang dicintai penduduk Mekkah. Orang-orang Quraisy menjulukinya dengan sebutan Al Fayyadh yang berarti Sang Dermawan.
Suatu hari, dia mendengar bahwa Syaibah, keponakannya yang tinggal di Yatsrib, sedang tumbuh remaja.
"Aku harus menemuinya," pikir Al Muthalib,
"dia adalah anak kakakku. Dulu ayahnya adalah pemuka Mekah, maka dia harus pulang untuk melanjutkan kekuasaan ayahnya menggantikan aku."
Ketika Al Muthalib bertemu Syaibah di Yatsrib, dia tersentak,
"Anak ini benar-benar mirip Hasyim."
"Mari Nak, ikut Paman ke Mekah," peluk Al Muthalib.
"Tetapi, jika ibu tidak mengizinkan pergi, aku akan tetap tinggal di sini," jawab Syaibah
Syaibah
Nama Syaibah diberikan karena ada rambut putih (uban) di kepalanya sejak dia kecil. Selain Syaibah, Hasyim telah memiliki empat putra dan lima putri yang tinggal di Mekkah.
ABDUL MUTHALIB
"Tidak. Aku tidak akan membiarkannya pergi" jawab Salma.
"Dia buah hatiku satu-satunya. Wajahnya lah yang senantiasa mengingatkan aku akan wajah ayahnya".
"Aku juga menyayangi Hasyim", jawab Al Muthalib,
"bukan cuma aku, tetapi penduduk kota Mekah juga menyayanginya. mereka pasti akan senang sekali menyambut kedatangan putra Hasyim. Begitu melihat wajah anak ini, rasa sayangku timbul kepadanya. Seolah-olah aku melihat Hasyim hidup kembali dan berdiri di hadapanku.
Izinkan aku membawanya pergi. Sesungguhnya Mekah adalah kerajaan ayahnya dan Mekah adalah tanah suci yang di cintai oleh seluruh bangsa Arab. Tidakkah pantas putramu pergi ke sana dan melanjutkan pemerintahan ayahnya?".
Salma memandang Syaibah dengan mata berkaca-kaca. Hatinya ingin agar putra satu-satunya itu tetap tinggal di sisinya. Namun, ia tahu masa depan Syaibah bukan di Yatsrib, melainkan di Mekkah. Akhirnya, ia pun mengangguk, "Baiklah, kuizinkan ia pergi."
Dengan amat gembira, Al Muthalib mengajak keponakannya itu pulang. Syaibah duduk membonceng unta di belakang pamannya.
Ketika mereka tiba di Mekkah, orang-orang menyangka bahwa anak yang duduk di belakang Al Muthalib adalah budaknya.
"Abdul Muthalib (Budak Al Muthalib)! Abdul Muthalib!" panggil mereka kepada Syaibah.
"Celaka kalian! Dia bukan budakku, dia anak saudaraku, Hasyim!"
Namun, orang-orang telanjur menyebutnya demikian sehingga akhirnya nama Syaibah pun terlupakan. Setelah itu, dia dikenal dengan nama Abdul Muthalib. Dia kelak menjadi kakek Nabi Muhammad ﷺ.
WAG
Sirah Nabi Bag 2: Nenek Moyang Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد
Nenek Moyang Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم
Salah seorang nenek moyang Nabi Muhammad bernama Hasyim bin Abdul Manaf. Ia adalah pemuka masyarakat dan orang yang berkecukupan. Masyarakat Mekah mematuhi dan menghormatinya.
"Wahai penduduk Mekah, aku membagi perjalanan kalian menurut musim. Jika musim dingin tiba, pergilah berdagang ke Yaman yang hangat. Jika musim panas, giliran kalian pergi ke Syam yang sejuk!" demikian keputusan Hasyim.
Hasyim tambah disayangi penduduk Mekah karena pada suatu musim kemarau yang mencekam, ia pernah membawa persediaan makanan dari tempat yang jauh. Padahal, saat itu makanan amat sulit didapat.
"Terima kasih, wahai Hasyim! Engkau menolong kami dengan pemberian makanan ini!" seru penduduk Mekah.
Di bawah kepemimpinan Hasyim, Mekah berkembang menjadi pusat perdagangan yang makmur. Pasar-pasar didirikan sebagai tempat berniaga kafilah-kafilah dagang yang datang dan pergi silih berganti, baik pada musim panas maupun pada musim dingin. Demikian pandainya penduduk Mekah berdagang, sampai-sampai tidak ada pihak lain yang mampu menyaingi mereka.
Akan tetapi, di samping kemajuan yang besar itu, masyarakat Arab juga mengalami kemunduran luar biasa. Itulah sebabnya mereka dijuluki masyarakat jahiliah alias masyarakat yang diliputi kebodohan. Itulah juga sebabnya sampai Allah mengutus rasul terakhir-Nya di tempat ini.
Pembagian Urusan
Beberapa jabatan pemerintahan di Mekah di antaranya:
Hijabah : Pemegang kunci Ka'bah,
Siqayah : Penyedia air dan makanan buat para peziarah,
Rifadah : Mengatur pembagian dana dari orang kaya untuk fakir miskin, Qiyadah : Mengatur urusan peperangan.
Percaya Takhayul
"Oh, tidak! Burung itu terbang ke kiri! Aku pasti akan tertimpa sial!" umpat seseorang, orang itu kebetulan melihat seekor burung yang terbang di atas kepalanya berbelok ke arah kiri. Sepanjang hari itu, dia jadi murung karena yakin bahwa dia bernasib sial walaupun belum tahu kesialan macam apa yang akan menimpanya.
Orang-orang Arab pada masa jahiliyah amat percaya pada takhayul. Contohnya, mereka percaya jika burung yang mereka lihat terbang ke kiri, nasib sial akan menimpa mereka. Sebaliknya jika burung kebetulan terbang ke kanan, nasib baik akan datang. Kepercayaan semacam ini disebut At Tathayyur
Selain itu, mereka percaya bahwa jika seseorang mati, rohnya akan menjadi burung. Mereka juga percaya bahwa di dalam perut manusia ada ular. Ular inilah yang menggigit di dalam perut sehingga orang merasa lapar.
"Lihat cincin tembagaku ini", kata seorang kepada temannya dengan bangga, "Cincin ini adalah pemberian seorang dukun kepadaku. Tidak sia sia aku memberinya uang banyak agar membuatkan cincin ini. Jangan coba-coba menantangku berkelahi sekarang. Berkat cincin ini, aku merasa jauh lebih kuat!".
Masih banyak kebodohan serupa yang mereka perlihatkan. Mereka juga amat taat menyembah berhala-berhala berbentuk patung. Jika mereka meminta pertolongan kepada berhala, tidak segan-segan mereka mengorbankan binatang ternak dan mengoleskan darahnya di tubuh berhala. Bahkan mereka terkadang sampai hati mengorbankan anak- anaknya sendiri demi mengharap keridhaan berhala.
Selain melakukan kebodohan-kebodohan itu, mereka masih melakukan banyak sekali hal hal yang merusak.
Awal Mula Penyembahan Berhala
Awal mula penyembahan berhala di Mekkah, ketika seorang bernama Amar bin Luhay membawa berhala besar bernama Hubal yang dibelinya dari daerah Syam. Di Mekkah, berhala Hubal ditaruh di Ka'bah dan disuruhnya orang orang datang menyembahnya.
Menjelang menaklukkan Mekkah oleh Nabi Muhammad saw. Ka'bah dipenuhi oleh tiga ratus enam puluh berhala yang terbuat dari batu, kayu, perak, bahkan emas.
Gemar Mabuk dan Berjudi
Bangsa Arab pada masa itu sangat gemar meminum arak. Hampir semua orang adalah peminum kecuali beberapa saja yang tidak.
Para pelayan datang membawakan baki dan botol-botol minuman. Orang orang datang berkumpul sambil tertawa.
Para penari datang disambut tepukan dan sorak sorai. Ketika minuman mulai membuat mereka mabuk, seseorang kembali berseru, "Bawakan alat alat judi kemari!"
Orang pun membawakan alat-alat judi berupa bilah-bilah kayu dan sebuah kantung kulit. Beberapa ekor unta dipotong, yang kalah berjudi harus membayar unta-unta tersebut. Selain berjudi dengan memotong unta, mereka juga berjudi dengan bermacam macam cara.
Demikianlah minum sambil berjudi adalah kebiasaan yang amat digemari oleh bangsa Arab saat itu. Bahkan, setelah Nabi Muhammad SAW mengajarkan Islam, masih banyak pemeluk baru agama Islam yang masih suka meminum arak sampai turunlah perintah Allah yang berangsur-angsur mengharamkan orang meminum minuman keras.
Barm
Judi memotong unta adalah judi yang paling digemari orang Arab Jahiliyah. Bilah-bilah kayu dikocok dalam kantung dan dibagikan. Orang yang mendapat undi kosong dinyatakan kalah dan harus membayar unta yang dipotong. Daging unta kemudian dibagikan kepada fakir miskin. Orang yang tidak suka berjudi semacam ini dipandang sebagai seorang kikir, yang biasa disebut barm.
WAG
Sirah Nabi Bag 1: Pendahuluan
JAZIRAH ARAB
Jazirah Arab itu sebenarnya tidak hanya terdiri atas gurun pasir. Ada banyak tanah subur yang telah dihuni sejak lama. Tanah-tanah subur itu terutama terletak di daerah pantai, seperti Yaman, Yamamah, Hadramaut, dan Ahsa. Di bagian tengah Jazirah Arab ada sebuah wilayah subur lain bernama Najd. Wilayah ini dikenal sebagai tempat asal kuda Arab yang termahsyur di mana-mana.
Najd dan Yamamah juga terkenal sebagai penghasil gandum. Demikian banyak gandum yang dihasilkan sehingga konon mampu memenuhi kebutuhan seluruh penduduk Jazirah Arab yang ketika Nabi Muhammad dilahirkan berjumlah sekitar 10 juta- 12 juta jiwa.
Di kota Madinah terdapat bukit -bukit yang baik untuk ditanami. Sementara itu, kota Thaif terkenal karena buah-buahannya.
Di luar daerah-daerah subur, Jazirah Arab dipenuhi gunung dan bukit-bukit batu yang besar. Tidak ada sungai mengalir. Suhu udaranya sangat panas. Karenanya, penduduk Arab umumnya suka mengembara. Mereka suka berpindah ke tempat mana saja yang dapat memenuhi keperluan hidup sehari-hari berserta hewan-hewan ternak mereka.
Unta
Unta adalah kendaraan yang sangat diandalkan penduduk gurun pasir. Ia dapat mengarungi gurun selama 17 hari tanpa minum. Walaupun pelan, jika dipacu unta dapat menempuh jarak sampai 300 km dalam sehari. Unta mau melahap ranting dan rumput pahit yang di jauhi kambing. Unta juga mau minum air berlumpur dan mengubahnya menjadi susu bermutu tinggi yang dapat digunakan sebagai obat tetes mata. Dagingnya dimakan, bulunya dibuat tali, kulitnya dapat menjadi aneka alat, mulai dari sandal sampai atap dan perisai perang. Air seninya menjadi sampo pencuci rambut. Kukunya dibakar dan diulek menjadi tepung untuk obat luka atau adonan kue. Kotorannya dapat dipakai sebagai bahan bakar. Unta adalah karunia Allah untuk penduduk gurun pasir.
Letak Mekah
Di Kota Mekah inilah terletak Ka'bah, Baitullah. Ke arah Ka'bahlah seluruh Muslim di dunia menghadapkan diri jika sedang shalat. Di kota Mekah inilah nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, dilahirkan.
Kota Mekah adalah sebuah lembah yang tidak begitu luas, di tengah lautan pasir. Bukit-bukit mengurung lembah ini rapat-rapat. Begitu rapatnya sehingga cuma ada tiga jalan untuk keluar dan masuk Mekah. Jalan pertama menuju ke Yaman, jalan ke dua menuju ke Laut Merah, dan jalan ketiga adalah jalan menuju Palestina.
Ribuan tahun yang lalu, Lembah Mekah hanyalah sebuah tempat persinggahan rombongan kafilah, baik yang datang dari Yaman menuju Palestina maupun sebaliknya, yang datang dari Palestina menuju Yaman. Nabi Ismail lah yang pertama kali membuat Mekah menjadi sebuah kota.
Pakaian Orang Arab
Penduduk asli Jazirah Arab adalah suku Badui. Pakaian mereka longgar, hangat pada musim dingin, dan sejuk pada musim panas. Pakaian ini menjaga kulit dari sengatan matahari serta angin kering.
Pada zaman para nabi, pakaian ini terdiri atas dua helai. Satu helai melilit tubuh dari bawah ketiak. Satu helai lagi adalah sebuah jubah panjang sampai kaki dan terbuat dari bulu domba atau unta. Warnanya krem dengan lurik tegak berwarna hitam, biru, coklat atau putih.
Pakaian wanitanya panjang menyapu tanah dan sangat longgar. Selendang melilit pinggang, jubahnya berlurik merah, kuning, hitam atau biru. Cadarnya berwarna hitam atau putih. Tudung kepala berwarna merah, putih, atau cokelat melindungi mata, telinga, dan hidung dari debu dan badai pasir.
Badui
Suku Badui adalah penduduk asli Jazirah Arab. Mereka adalah prajurit pengelana yang tangguh. Tinggi mereka sedang, tapi kekar, cekatan, dan kuat menderita dalam alam yang keras. Jika ada anggota keluarga yang tewas, para lelaki Badui akan segera membalas pembunuhnya. Mereka berani dalam bertempur dan sabar dalam kekalahan.
Meski demikian, orang Badui terkenal ramah, senang memberi, dan sangat menghormati tamu. Mereka juga tenang, sabar, dan tidak cepat marah. Orang Badui juga sangat mengagumi keindahan syair. Jiwa orang orang Badui mudah terpanggil pada kebenaran. Mereka adalah orang orang sederhana. Mereka duduk di lantai dengan wadah makanan di lutut. Dengan demikian, tidak bisa dibedakan mana majikan dan mana bawahan.
Sahabat fillahku, kepada orang-orang inilah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, diutus. Berkat bimbingan Nabi Muhammadlah orang orang Badui dari padang pasir yang sunyi ini mampu mengguncang dunia. Merekalah yang akhirnya menyebarkan agama Islam ke seluruh dunia. Merekalah yang membangun umat Islam menjadi umat yang besar dan dihormati.
Namun, jauh sebelum menyebar ke penjuru bumi, perjalanan umat Islam di Jazirah Arab dimulai oleh kisah Nabi Ibrahim عَلَيْهِ السَلاَمُ.
Beliau adalah nenek moyang Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.
WAG
Langganan:
Postingan (Atom)