Pertamakali perlu kita pahami dulu arti sabar dari segi bahasa. Al-Imam Abu Bakar Ar-Razi menjelaskan bahwa arti “Sabar” dari segi bahasa adalah: “Habsun-Nafsi ‘Anil-Jaza’i”; artinya: “Menahan diri dari keluh kesah”. Para ‘ulama mengatakan bahwa “Sabar” itu ada 3 (tiga) tingkat.
Tingkat pertama, bersabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, yaitu dalam melaksanakan perintah Allah swt.
Tingkat kedua, bersabar dalam meninggalkan larangan Allah swt.
Dan tingkat ketiga, bersabar dalam ujian dan cobaan Allah swt.
Jadi, jika seseorang sudah membiasakan atau melatih dirinya untuk bersabar dalam melaksanakan perintah Allah dan juga menjauhi larangan Allah swt, maka ia akan mampu bersabar ketika mendapat ujian dan cobaan. Artinya, dalam keadaan cobaan yang bagaimana pun, ia dapat terus melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah. Tidak demikian halnya bagi orang yang tidak biasa menjalankan perintah Allah serta meninggalkan larangan Allah. Ia tidak akan mampu bersabar pada saat mendapat cobaan dari Allah swt.
Ada 3 (tiga) hal yang harus diupayakan agar memperoleh kesabaran.
Pertama: Berdo’a dengan do’a: “Rabbana Afrigh ‘Alainash-Shabra Wa Tsabbit Aqdamana Wan-Shurna ‘Alal-Qaumil-Kafirin”. Artinya: “Ya Rabb kami, curahkanlah kesabaran pada kami, dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami dalam menghadapi orang-orang yang kafir” (Surah Al-Baqarah (2):250).
Kedua: Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bersikap sabar, sebagaimana firman Allah dalam surah Ali ‘Imran (3) ayat 200: “Ya Ayyuhal-Ladzina Amanush-Biru Wa Shabiru…”. Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian…”. Disebutkan dalam sebuah riwayat dari Nabi saw: “Man Tashabbara Shabbarallahu ‘alaihi”. Artinya: “Siapa-saja yang berusaha untuk sabar, maka Allah akan memberikan kesabaran padanya”.
Ketiga: Saling menasehati sesama muslim untuk senantiasa bersabar, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-’Ashr (103) ayat ke 3: “Wa Tawashau Bish-Shabri”. Artinya: “Dan mereka saling berwasiat dengan kesabaran”. Maksudnya: Menanamkan kesabaran juga harus melalui saling nasehat menasehati. Inilah 3 (tiga) langkah yang merupakan manhaj (metode) Al-Quran untuk memperoleh kesabaran.
Sebetulnya surah Al-Baqarah (2) ayat 45-46 itu turun berkaitan dengan Bani Israil atau Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang ada pada zaman Rasulullah saw, sebagaimana disebutkan pada beberapa ayat sebelumnya, yaitu mulai dari ayat 40 s/d ayat 44; yang mengandung beberapa perintah dan larangan serta teguran Allah kepada mereka. Untuk itulah Allah memerintahkan mereka untuk minta tolong kepada-Nya dengan sabar dan shalat (ayat 45), yaitu minta tolong agar dapat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah; karena hal itu merupakan perkara yang berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ (tunduk). Dan ayat 46 menjelaskan pengertian khusyu’ yang sebenarnya. Jadi, perintah sabar dan minta tolong di sini tidak berkaitan dengan musibah, akan tetapi berkaitan dengan kewajiban menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah Swt.
07 September 2009
02 September 2009
Syarat Puasa agar mencapai derajat Taqwa
Allah SWT telah menegaskan tujuan puasa; yaitu LA'ALLAKUM TATTAQUN (agar kalian bertaqwa). Arti Taqwa dari segi bahasa: "Terpelihara dari berbagai penyakit". Jadi, puasa bertujuan utk memelihara qalbu dari macam-macam penyakit batin, seperti: ujub, takabur, dengki dsb. Taqwa juga berarti "Makhafatullahi Wal-'Amalu Bitha'atih" (Rasa takut kepada Allah serta melaksanakan kepatuhan kepada-Nya). Inilah tujuan puasa.
Menurut hadits-hadits yang shahih, ada 5 (lima) syarat yang harus dipenuhi oleh setiap muslim, agar puasanya mencapai hasil.
Syarat ke (1): Berpuasa dengan niat karena iman kepada Allah dan mencari hasil, sabda Nabi saw :"Man Shama Ramadhana Imanan Wah-Tisaban Ghufira Lahu Ma Taqaddama Min Dzanbihi" (Siapa-saja yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mencari hasil (yaitu Taqwa), maka diampuni segala dosa-dosa yang dahulu ia kerjakan. (H.R. Bukhari).
Syarat ke(2): Meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, sabda Nabi saw:"Man Lam Yada' Qaulaz-Zur Wal-'Amala Bihi, Falaisa Lillahi Hajatun Fi An-Yada'a Tha'amahu Wa Syarabahu" (Siapa-saja yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka tidak ada keinginan bagi Allah untuk--menerima puasanya meskipun--ia meninggalkan makan dan minumnya. H.R.Al-Bukhari) Maksudnya,meskipun ia menahan lapar dan haus, pahala puasanya sia2.
Syarat ke (3): Tidak menggunjing orang, sabda Nabi saw:"Ash-Shaumu Junnatun Ma Lam Yahriqha Bil-Ghibah" (Puasa itu adalah perisai --kehidupan--selama ia (org yg. bersangkutan) tidak merusaknya dengan menggunjing. H.R. An-Nasa-i dan Ad-Darimi). Jadi, menggunjing itu merusak perisai dan pahala Shaum. Padahal puasa itu menurut Nabi saw adalah perisai yangg dapat melindungi dalam pertempuran hidup, terutama utk 11 bulan ke depan.
Syarat ke(4): Tidak mengeluarkan kata-kata cabul,berteriak-teriak (bertengkar), sabda Nabi saw: Idza Kana Yaumu Shaumi Ahadikum Fala Yarfuts Wa La Yashkhab, Fa-in Sabbahu Ahadun Aw Qatalahu Fal-yaqul Innim-ru-un Sha-imun (Ketika ada hari berpuasa salah seorang kalian, maka janganlah ia mengucapkan kata-kata cabul dan berteriak-teriak (memaki-maki). Jika ada orang yang memakinya atau memojokkannya, katakanlah:"Aku sedang berpuasa". H.R. Al-Bukhari)
Syarat ke (5): Melakukan shalat malam pada malam-mala Ramadhan; Nabi saw bersabda: "Man Qama Ramadhana Imanan Wah-Tisaban Ghufira Lahu Ma Taqaddama Min Dzanbihi". (Siapa-saja yang berdiri --shalat di malam-malam -- Ramadhan, karena iman dan mencari hitungan, akan diampuni segala dosa yang ia lakukan pada waktu yang lalu. H.R. Al-Bukhari). Al-Hamdulillah Bini'matihi Tatimmush-Shalihat. Itulah 5 syarat mencapai target Shaum.
Menurut hadits-hadits yang shahih, ada 5 (lima) syarat yang harus dipenuhi oleh setiap muslim, agar puasanya mencapai hasil.
Syarat ke (1): Berpuasa dengan niat karena iman kepada Allah dan mencari hasil, sabda Nabi saw :"Man Shama Ramadhana Imanan Wah-Tisaban Ghufira Lahu Ma Taqaddama Min Dzanbihi" (Siapa-saja yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mencari hasil (yaitu Taqwa), maka diampuni segala dosa-dosa yang dahulu ia kerjakan. (H.R. Bukhari).
Syarat ke(2): Meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, sabda Nabi saw:"Man Lam Yada' Qaulaz-Zur Wal-'Amala Bihi, Falaisa Lillahi Hajatun Fi An-Yada'a Tha'amahu Wa Syarabahu" (Siapa-saja yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka tidak ada keinginan bagi Allah untuk--menerima puasanya meskipun--ia meninggalkan makan dan minumnya. H.R.Al-Bukhari) Maksudnya,meskipun ia menahan lapar dan haus, pahala puasanya sia2.
Syarat ke (3): Tidak menggunjing orang, sabda Nabi saw:"Ash-Shaumu Junnatun Ma Lam Yahriqha Bil-Ghibah" (Puasa itu adalah perisai --kehidupan--selama ia (org yg. bersangkutan) tidak merusaknya dengan menggunjing. H.R. An-Nasa-i dan Ad-Darimi). Jadi, menggunjing itu merusak perisai dan pahala Shaum. Padahal puasa itu menurut Nabi saw adalah perisai yangg dapat melindungi dalam pertempuran hidup, terutama utk 11 bulan ke depan.
Syarat ke(4): Tidak mengeluarkan kata-kata cabul,berteriak-teriak (bertengkar), sabda Nabi saw: Idza Kana Yaumu Shaumi Ahadikum Fala Yarfuts Wa La Yashkhab, Fa-in Sabbahu Ahadun Aw Qatalahu Fal-yaqul Innim-ru-un Sha-imun (Ketika ada hari berpuasa salah seorang kalian, maka janganlah ia mengucapkan kata-kata cabul dan berteriak-teriak (memaki-maki). Jika ada orang yang memakinya atau memojokkannya, katakanlah:"Aku sedang berpuasa". H.R. Al-Bukhari)
Syarat ke (5): Melakukan shalat malam pada malam-mala Ramadhan; Nabi saw bersabda: "Man Qama Ramadhana Imanan Wah-Tisaban Ghufira Lahu Ma Taqaddama Min Dzanbihi". (Siapa-saja yang berdiri --shalat di malam-malam -- Ramadhan, karena iman dan mencari hitungan, akan diampuni segala dosa yang ia lakukan pada waktu yang lalu. H.R. Al-Bukhari). Al-Hamdulillah Bini'matihi Tatimmush-Shalihat. Itulah 5 syarat mencapai target Shaum.
28 Agustus 2009
Empat Tujuan atau Motivasi atau Aliran dalam beragama
Akhir2 ini memang banyak cara2 atau metode yang dibuat-buat untuk memahami Al-Quran atau juga untuk memahami Islam, sesuai dengan niat atau tujuan dari orang yang membuat cara2 tersebut.
Pertamakali yang perlu Anda ketahui, bahwa di dunia Islam ini ada 4 (empat) tujuan atau motivasi atau aliran dalam beragama.
Pertama, "mencari ketenangan". Dan biasanya orang2 yang mencari ketenangan dalam beragama akan mencari figur2 atau tokoh yang dianggapnya bisa membuat dirinya tenteram, tenang dan nyaman. Namun, bila ternyata tokoh idolanya melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kemauannya, ia pun segera mencela, menghujat, memaki-maki sang tokoh idola. Ini yang terjadi pada Aa Gym, ketika dia kawin lagi (poligami).
Kedua, "orang yang cari uang". Artinya agama buat dia adalah alat untuk mencari uang. Dan biasanya orang2 yang mencari uang dengan agama, berusaha menonjol-nonjolkan dirinya sebagi ustadz, kiyai, ahli pengobatan, ahli ruqyah atau apa saja yang bisa menarik orang lain menjadipengikut. Nah, biasanya antara golongan pertama yaitu para pencari ketenangan dan golongan kedua yaitu para pencari uang terjadi titik temu dan saling memanfaatkan (simbiosis mutualis), yang satu mencari figur agar bisa mendapat ketenangan; dan yang lain menjadikan dirinya figur supaya dapat pengikut dan uang.
Ketiga, "mencari pembenaran". Artinya agama dijadikan alat untuk membenarkan segala tindakannya. Contohnya para pelaku teror bom yang beralasan dengan ayat2 jihad, memerangi Amerika-lah, orang2 kafir-lah. Ketika dikatakan kepadanya bahwa akibat teror bom itu banyak orang2 Islam yang jadi korban, maka dengan enteng dia menjawab: “Siapa suruh mereka (orang2 Islam itu) ada disitu?”. Atau mereka dengan tenang berkata: “Kami tidak berniat membunuh orang2 Islam yang ada di situ, niat kami memerangi Amerika”. Mereka lupa bahwa di dalam ajaran Islam antara niat dan tindakan harus sejalan. Orang yang korupsi dengan niat shadaqah tidak diterima sebagaimana sabda Nabi saw. “La Yaqbalullahu Shadaqatan Min Ghulul” .Artinya: “Allah tidak akan menerima shadaqah dari — harta — korupsi”.
Syaikh ‘Utsaimin (rahimahullah) telah memberi peringatan cara beragama seperti ini, yaitu “mencari pembenaran”, beliau berkata: “Laa Ta’taqid Tsumma Tastadil, Fa Tadhill..” Artinya: “Janganlah engkau meyakini sesuatu lalu mencari-cari dalil — untuk membenarkannya –; karena cara2 semacam itu akan membuat-mu tersesat”.
Ke-empat, "mencari kebenaran". Yaitu orang2 yang selalu mencari kebenaran dengan cara selalu mengkaji ilmu agama. Dalam hal ini para ‘ulama telah menetapkan sebuah prinsip: “Fa ‘Alaika An Ta’rifal-Haqqa Bi Dalilih, La Bi Qa-ilih”. Artinya: “Wajib bagi-mu untuk mengetahui kebenaran berdasarkan dalilnya, bukan berdasarkan orang yang mengatakannya”.
Atau sebagaimana dikatakan oleh Syaikh ‘Utsaimin: ” Istadil Tsumma’Taqid”. Artinya: “Kaji dalilnya lalu yakini”. Dan dengan 4 (empat) patokan ini, rasanya tidak terlalu sulit bagi Anda untuk menetapkan setiap aliran berada di jalur yang mana: Cari tenang, cari uang, cari pembenaran atau cari kebenaran?
dari tanya jawab di situs www.asiisc.net
Pertamakali yang perlu Anda ketahui, bahwa di dunia Islam ini ada 4 (empat) tujuan atau motivasi atau aliran dalam beragama.
Pertama, "mencari ketenangan". Dan biasanya orang2 yang mencari ketenangan dalam beragama akan mencari figur2 atau tokoh yang dianggapnya bisa membuat dirinya tenteram, tenang dan nyaman. Namun, bila ternyata tokoh idolanya melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kemauannya, ia pun segera mencela, menghujat, memaki-maki sang tokoh idola. Ini yang terjadi pada Aa Gym, ketika dia kawin lagi (poligami).
Kedua, "orang yang cari uang". Artinya agama buat dia adalah alat untuk mencari uang. Dan biasanya orang2 yang mencari uang dengan agama, berusaha menonjol-nonjolkan dirinya sebagi ustadz, kiyai, ahli pengobatan, ahli ruqyah atau apa saja yang bisa menarik orang lain menjadipengikut. Nah, biasanya antara golongan pertama yaitu para pencari ketenangan dan golongan kedua yaitu para pencari uang terjadi titik temu dan saling memanfaatkan (simbiosis mutualis), yang satu mencari figur agar bisa mendapat ketenangan; dan yang lain menjadikan dirinya figur supaya dapat pengikut dan uang.
Ketiga, "mencari pembenaran". Artinya agama dijadikan alat untuk membenarkan segala tindakannya. Contohnya para pelaku teror bom yang beralasan dengan ayat2 jihad, memerangi Amerika-lah, orang2 kafir-lah. Ketika dikatakan kepadanya bahwa akibat teror bom itu banyak orang2 Islam yang jadi korban, maka dengan enteng dia menjawab: “Siapa suruh mereka (orang2 Islam itu) ada disitu?”. Atau mereka dengan tenang berkata: “Kami tidak berniat membunuh orang2 Islam yang ada di situ, niat kami memerangi Amerika”. Mereka lupa bahwa di dalam ajaran Islam antara niat dan tindakan harus sejalan. Orang yang korupsi dengan niat shadaqah tidak diterima sebagaimana sabda Nabi saw. “La Yaqbalullahu Shadaqatan Min Ghulul” .Artinya: “Allah tidak akan menerima shadaqah dari — harta — korupsi”.
Syaikh ‘Utsaimin (rahimahullah) telah memberi peringatan cara beragama seperti ini, yaitu “mencari pembenaran”, beliau berkata: “Laa Ta’taqid Tsumma Tastadil, Fa Tadhill..” Artinya: “Janganlah engkau meyakini sesuatu lalu mencari-cari dalil — untuk membenarkannya –; karena cara2 semacam itu akan membuat-mu tersesat”.
Ke-empat, "mencari kebenaran". Yaitu orang2 yang selalu mencari kebenaran dengan cara selalu mengkaji ilmu agama. Dalam hal ini para ‘ulama telah menetapkan sebuah prinsip: “Fa ‘Alaika An Ta’rifal-Haqqa Bi Dalilih, La Bi Qa-ilih”. Artinya: “Wajib bagi-mu untuk mengetahui kebenaran berdasarkan dalilnya, bukan berdasarkan orang yang mengatakannya”.
Atau sebagaimana dikatakan oleh Syaikh ‘Utsaimin: ” Istadil Tsumma’Taqid”. Artinya: “Kaji dalilnya lalu yakini”. Dan dengan 4 (empat) patokan ini, rasanya tidak terlalu sulit bagi Anda untuk menetapkan setiap aliran berada di jalur yang mana: Cari tenang, cari uang, cari pembenaran atau cari kebenaran?
dari tanya jawab di situs www.asiisc.net
20 Agustus 2009
Tafsir Surah 94 ayat 5: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”
Assalamu’alaikum wr.wb. Bang Debby, apa makna (tafsir) dari “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan - QS 94:5″. Kalau melihat terjemahannya kata “bersama” mengandung pengertian antara kesulitan dan kemudahan itu beriringan sementara selama ini menurut pemahaman umum, kemudahan itu datang setelah adanya kesulitan. Bagaimana mengenai hal ini..? Mohon penjelasan. Syukron. Wassalamu’alaikum wr.wb.Djoko Priambodo
Jawab
Wa’alaikum salam wr.wb. Sebetulnya makna ayat itu sangat dalam dan luar-biasa, dan mampu memberikan motivasi bagi siapa-saja yang memahaminya, apalagi ayat tersebut diulang 2X; Fa-inna ma’al-’usri yusran. Inna na’al-’usri yusran. Ahli Tafsir mengatakan, bahwa kata “Al-’usri” menggunakan Alif-lam ma’rifat, yaitu mengandung arti “satu kesulitan”, sedangkan kata ” Yusran” memakai isim nakirah; yaitu sesuatu yang tidak terbatas, yang berarti “beberapa kemudahan”. Jadi, arti ayat tersebut: “Maka sesungguhnya bersama satu kesulitan ada beberapa kemudahan”. Tegasnya, kemudahan itu lebih banyak dari kesulitan. Jadi, bukan setelah kesulitan ada kemudahan. Hanya saja, untuk merealisasikan hal itu kita harus melihat 2 ayat berikutnya; yaitu: “Fa idza faraghta Fanshab”, yang artinya: “Maka apabila engkau telah selesai — dari satu pekerjaan — maka tegaklah — untuk mengerjakan yang lain–”. Artinya, kita dituntut untuk mampu membuat “rencana padat karya”, tidak buang-buang waktu. Dan yang terakhir: “Wa Ila Rabbika Farghab”, yang artinya: ” Maka kepada Rabb-mu, hendaklah engkau merasa senang”. Sebagian Ahli Tafsir mengartikan ayat ini: “Hendaknya engkau selalu berharap kepada Rabb-mu”. Ini merupakan klimaks dari usaha yang terus menerus, yaitu berharap hasil usaha hanya kepada Allah dtsertai dengan sikap tawakal. Dan ada satu pelajaran berharga dari penjelasan ini semua, yaitu: Tawakal, pasrah kepada Allah hanya dilakukan setelah melaksanakan upaya yang sungguh2. (Wallahu A’lam)
Jawab
Wa’alaikum salam wr.wb. Sebetulnya makna ayat itu sangat dalam dan luar-biasa, dan mampu memberikan motivasi bagi siapa-saja yang memahaminya, apalagi ayat tersebut diulang 2X; Fa-inna ma’al-’usri yusran. Inna na’al-’usri yusran. Ahli Tafsir mengatakan, bahwa kata “Al-’usri” menggunakan Alif-lam ma’rifat, yaitu mengandung arti “satu kesulitan”, sedangkan kata ” Yusran” memakai isim nakirah; yaitu sesuatu yang tidak terbatas, yang berarti “beberapa kemudahan”. Jadi, arti ayat tersebut: “Maka sesungguhnya bersama satu kesulitan ada beberapa kemudahan”. Tegasnya, kemudahan itu lebih banyak dari kesulitan. Jadi, bukan setelah kesulitan ada kemudahan. Hanya saja, untuk merealisasikan hal itu kita harus melihat 2 ayat berikutnya; yaitu: “Fa idza faraghta Fanshab”, yang artinya: “Maka apabila engkau telah selesai — dari satu pekerjaan — maka tegaklah — untuk mengerjakan yang lain–”. Artinya, kita dituntut untuk mampu membuat “rencana padat karya”, tidak buang-buang waktu. Dan yang terakhir: “Wa Ila Rabbika Farghab”, yang artinya: ” Maka kepada Rabb-mu, hendaklah engkau merasa senang”. Sebagian Ahli Tafsir mengartikan ayat ini: “Hendaknya engkau selalu berharap kepada Rabb-mu”. Ini merupakan klimaks dari usaha yang terus menerus, yaitu berharap hasil usaha hanya kepada Allah dtsertai dengan sikap tawakal. Dan ada satu pelajaran berharga dari penjelasan ini semua, yaitu: Tawakal, pasrah kepada Allah hanya dilakukan setelah melaksanakan upaya yang sungguh2. (Wallahu A’lam)
11 Agustus 2009
Keadaan Para Malaikat Sebagai Makhluk Allah Yang Paling Perkasa, Dan Rasa Takut Mereka Ketika Turun Wahyu Dari Allah 'Azza Wa Jalla
Firman Allah 'azza wa jalla, (artinya):
"... Sehingga apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati para malaikat itu, mereka bertanya: "Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "(perkataan) yang benar." Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." (Saba': 23)
Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari, dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw bersabda:
"Apabila Allah menetapkan perintah di atas langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya karena patuh akan firman-Nya, seakan-akan firman (yang didengar) itu seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu rata, hal itu memekakkan mereka (sehingga mereka jatuh pingsan karena ketakutan). Maka apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati mereka, mereka berkata: "Apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "(Perkataan) yang benar. Dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." Ketika itulah, (syaitan-syaitan) penyadap berita (wahyu) mendengarnya. Keadaan penyadap berita itu seperti ini: sebagian mereka di atas sebagian yang lain -digambarkan Sufyan (Sufyan bin 'Uyainah bin Maimun Al Hilali, salah seorang periwayat hadits ini) dengan telapak tangannya, dengan direnggangkan dan dibuka jari-jemarinya- maka ketika penyadap berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, disampaikanlah kepada yang dibawahnya, kemudian disampaikan lagi kepada yang dibawahnya, dan demikian seterusnya hingga disampaikan ke mulut tukang sihir atau tukang ramal. Akan tetapi kadang kala syaitan penyadap berita itu terkena syihab (meteor) sebelum sempat menyampaikan kalimat (firman) tersebut, dan kadang kala sudah sempat menyampaikannya sebelum terkena syihab; lalu dengan satu kalimat yang didengarnya itulah, tukang sihir atau tukang ramal melakukan seratus macam kebohongan. Mereka (yang mendatangi tukang sihir atau tukang ramal) mengatakan: "Bukankah dia telah memberitahu kita bahwa pada hari anu akan terjadi anu (dan itu terjadi benar)", sehingga dipercayalah tukang sihir atau tukang ramal tersebut karena satu kalimat yang telah didengar dari langit."
An-Nawwas bin Sim'an menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
"Apabila Allah hendak mewahyukan perintah-Nya, maka Dia firmankan wahyu itu, dan langit-langit bergetar dengan keras karena rasa takut kepada Allah 'Azza wa Jalla. Lalu, apabila para malaikat penghuni langit mendengar firman tersebut, pingsanlah mereka dan bersimpuh sujud kepada Allah. Maka malaikat yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril, dan ketika itu Allah firmankan kepadanya apa yang Dia kehendaki dari wahyu-Nya. Kemudian Jibril melewati para malaikat, setiap dia melalui satu langit ditanyai oleh malaikat penghuninya: "Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan kita, wahai Jibril?" Jibril menjawab: "Dia firmankan yang benar. Dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." Dan seluruh malaikat pun mengucapkan seperti yang diucapkan Jibril itu. Demikianlah sehingga Jibril menyampaikan wahyu tersebut sesuai yang telah diperintahkan Allah 'Azza wa Jalla kepadanya. (HR Ibnu Abi 'Ashim dalam As-Sunnah; dan Al-Baihaqi dalam Al-Asma' wa As-Shifat)
"... Sehingga apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati para malaikat itu, mereka bertanya: "Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "(perkataan) yang benar." Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." (Saba': 23)
Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari, dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw bersabda:
"Apabila Allah menetapkan perintah di atas langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya karena patuh akan firman-Nya, seakan-akan firman (yang didengar) itu seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu rata, hal itu memekakkan mereka (sehingga mereka jatuh pingsan karena ketakutan). Maka apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati mereka, mereka berkata: "Apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "(Perkataan) yang benar. Dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." Ketika itulah, (syaitan-syaitan) penyadap berita (wahyu) mendengarnya. Keadaan penyadap berita itu seperti ini: sebagian mereka di atas sebagian yang lain -digambarkan Sufyan (Sufyan bin 'Uyainah bin Maimun Al Hilali, salah seorang periwayat hadits ini) dengan telapak tangannya, dengan direnggangkan dan dibuka jari-jemarinya- maka ketika penyadap berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, disampaikanlah kepada yang dibawahnya, kemudian disampaikan lagi kepada yang dibawahnya, dan demikian seterusnya hingga disampaikan ke mulut tukang sihir atau tukang ramal. Akan tetapi kadang kala syaitan penyadap berita itu terkena syihab (meteor) sebelum sempat menyampaikan kalimat (firman) tersebut, dan kadang kala sudah sempat menyampaikannya sebelum terkena syihab; lalu dengan satu kalimat yang didengarnya itulah, tukang sihir atau tukang ramal melakukan seratus macam kebohongan. Mereka (yang mendatangi tukang sihir atau tukang ramal) mengatakan: "Bukankah dia telah memberitahu kita bahwa pada hari anu akan terjadi anu (dan itu terjadi benar)", sehingga dipercayalah tukang sihir atau tukang ramal tersebut karena satu kalimat yang telah didengar dari langit."
An-Nawwas bin Sim'an menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
"Apabila Allah hendak mewahyukan perintah-Nya, maka Dia firmankan wahyu itu, dan langit-langit bergetar dengan keras karena rasa takut kepada Allah 'Azza wa Jalla. Lalu, apabila para malaikat penghuni langit mendengar firman tersebut, pingsanlah mereka dan bersimpuh sujud kepada Allah. Maka malaikat yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril, dan ketika itu Allah firmankan kepadanya apa yang Dia kehendaki dari wahyu-Nya. Kemudian Jibril melewati para malaikat, setiap dia melalui satu langit ditanyai oleh malaikat penghuninya: "Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan kita, wahai Jibril?" Jibril menjawab: "Dia firmankan yang benar. Dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." Dan seluruh malaikat pun mengucapkan seperti yang diucapkan Jibril itu. Demikianlah sehingga Jibril menyampaikan wahyu tersebut sesuai yang telah diperintahkan Allah 'Azza wa Jalla kepadanya. (HR Ibnu Abi 'Ashim dalam As-Sunnah; dan Al-Baihaqi dalam Al-Asma' wa As-Shifat)
Kajian : "Dosa-Dosa Penghalang Rezeki"
Assalamualaikum Warohamatullahi Wabarokatuh
InsyaAllah tanggal 15 Agustus 2009 akan mengadakan acara Kajian Islam dengan judul:
"Dosa-Dosa Penghalang Rezeki"
Bersama Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, Lc.
(Penulis Buku "Ya Allah, Ampuni Aku")
Tempat : Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta, Ruang Aula Sakinah
Waktu : Sabtu, 15 Agustus 2009
Pukul : 09:00-12:00 WIB
Penyelenggara : PengusahaMuslim.co
Biaya : Gratis, Pria dan Wanita
Informasi :
Dwi: 0816.1166.005
Fitri: 0813.1404.4911
Amin: 0813.3240.20224
Silahkan sebarkan informasi ini di milis2 lain dan di blog antum semua,
semoga menjadi amal jariah.
Jazakallahu Khairan
Wassalamualaikum
InsyaAllah tanggal 15 Agustus 2009 akan mengadakan acara Kajian Islam dengan judul:
"Dosa-Dosa Penghalang Rezeki"
Bersama Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, Lc.
(Penulis Buku "Ya Allah, Ampuni Aku")
Tempat : Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta, Ruang Aula Sakinah
Waktu : Sabtu, 15 Agustus 2009
Pukul : 09:00-12:00 WIB
Penyelenggara : PengusahaMuslim.co
Biaya : Gratis, Pria dan Wanita
Informasi :
Dwi: 0816.1166.005
Fitri: 0813.1404.4911
Amin: 0813.3240.20224
Silahkan sebarkan informasi ini di milis2 lain dan di blog antum semua,
semoga menjadi amal jariah.
Jazakallahu Khairan
Wassalamualaikum
Langganan:
Postingan (Atom)